Arsip Tag: pendapat auditor

Opini Audit Going Concern, Apa Itu dan Bagaimana Bisa Terjadi?

Jadi apa itu opini audit going concern? Apa alasan auditor mengeluarkan hal ini, lalu bagaimana efeknya terhadap perusahaan atau entitas bisnis?

Opini audit going concern merupakan opini audit yang dikeluarkan oleh auditor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjaga kelangsungan usahanya.

Mengapa Opini Audit Ini Dikeluarkan?

Laporan keuangan merupakan salah satu media bagi manajemen untuk mengkomunikasikan informasi keuangan kepada para pemangku kepentingan dalam rangka menilai kinerja perusahaan.

Laporan keuangan harus memiliki informasi yang lengkap atau komprehensif dalam mengungkapkan semua fakta yang dilakukan oleh perusahaan selama satu periode.

Tujuan utama audit adalah untuk memberikan kepercayaan yang cukup bahwa laporan keuangan telah disajikan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Diterima Secara Umum.

Hasil audit laporan keuangan merupakan opini auditor yang dianggap sebagai simbol kepercayaan publik terhadap akuntabilitas informasi yang disajikan dalam laporan keuangan.

Bagaimana Prosesnya Terjadi?

Dalam proses yang sedang berjalan, auditor dihimbau untuk mengevaluasi kelangsungan usaha dan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan usahanya untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

Going concern merupakan asumsi yang mewajibkan entitas ekonomi memiliki kemampuan operasional dan finansial dalam mempertahankan kelangsungan usahanya.

Auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat keraguan substansial tentang kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan bisnisnya untuk jangka waktu yang wajar.

Opini audit going concern merupakan audit modifikasi yang menurut pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian yang signifikan terhadap kelangsungan suatu perusahaan dalam menjalankan operasinya.

Pentingnya going concern things menunjukkan bahwa diperlukan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi opini audit going concern dalam hubungan auditor dengan klien. Adapun Karakteristik hubungan antara auditor dan klien meliputi audit client tenure, audit lag, dan opinion shopping.

Hubungan Opini Audit Going Concern dengan Keadaan Keuangan

Opini ini juga terkait dengan keadaan keuangan suatu perusahaan dalam hal ini rasio likuiditas dan tingkat leverage. Rasio likuiditas bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancar.

Semakin kecil likuiditas suatu perusahaan, hal tersebut menunjukkan perjuangan perusahaan dalam membayar kewajibannya. Oleh karena itu, auditor kemungkinan akan memberikan pendapat going concern.

Lalu Apa Itu Opini Audit Going Concern?

Berdasarkan PSA nomor 29 SA Bagian 208, opini auditor dikelompokkan menjadi lima jenis: opini wajar tanpa pengecualian, opini wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan, opini wajar dengan pengecualian, opini merugikan, dan opini disclaimer.

Opini audit going concern merupakan audit modifikasi yang menurut pertimbangan auditor terdapat ketidakmampuan atau ketidakpastian yang signifikan atas kelangsungan perusahaan dalam menjalankan operasinya.

Auditor dapat memberikan opini audit going concern jika menemukan kondisi atau kejadian selama proses audit yang menimbulkan keraguan auditor terhadap keberlanjutan suatu perusahaan.

Indikator dari Opini Audit Going Concern

Tidak ada prosedur khusus yang harus diikuti oleh auditor dalam mengeluarkan opini ini. Sebaliknya, informasi ini diperoleh dari jumlah total semua prosedur audit lain yang dilakukan. Indikator potensi masalah kelangsungan usaha adalah:

  • Tren negatif. Bisa berupa penurunan penjualan, kenaikan biaya, kerugian berulang, rasio keuangan yang merugikan, dan lain sebagainya.
  • Para karyawan. Kehilangan manajer kunci atau karyawan yang terampil, serta berbagai jenis kesulitan tenaga kerja, seperti pemogokan.
  • Sistem. Pencatatan akuntansi yang tidak memadai.
  • Hukum. Proses hukum terhadap perusahaan, yang mungkin termasuk kewajiban dan hukuman yang tertunda terkait dengan pelanggaran hukum lingkungan atau lainnya.
  • Hak milik intelektual. Hilang atau kedaluwarsa lisensi atau paten kunci.
  • Struktur bisnis. Perusahaan telah kehilangan dan tidak dapat mengganti pelanggan utama atau pemasok utama.
  • Pembiayaan. Perusahaan telah gagal membayar pinjaman atau tidak dapat menemukan pembiayaan baru.

Kesimpulan

Pada prinsipnya Anda harus berasumsi bahwa bisnis akan terus berlanjut di masa depan kecuali ada bukti yang bertentangan.

Ketika auditor melakukan pemeriksaan terhadap catatan akuntansi suatu perusahaan, dia memiliki kewajiban untuk meninjau kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya;

Jika penilaiannya menunjukkan adanya keraguan substansial mengenai kemampuan perusahaan untuk melanjutkan di masa depan (yang didefinisikan sebagai tahun berikutnya), kualifikasi kelangsungan usaha harus disertakan dalam pendapatnya atas laporan keuangan perusahaan.

Pernyataan ini biasanya disajikan dalam paragraf penjelasan terpisah yang mengikuti paragraf opini auditor.

Kualifikasi kelangsungan usaha merupakan perhatian besar bagi pemberi pinjaman karena merupakan indikator utama ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kembali hutangnya.

Beberapa pemberi pinjaman menentukan dalam dokumen mereka bahwa going concern akan memicu percepatan semua pembayaran pinjaman yang tersisa.

Pemberi pinjaman biasanya hanya tertarik untuk memberikan pinjaman kepada bisnis yang telah menerima opini wajar tanpa pengecualian dari auditornya mengenai laporan keuangannya.

Contoh Prosedur Audit dan Jenis-Jenisnya

Contoh Prosedur Audit-Seorang Auditor dalam proses mencari data yang valid perlu memahami 8 jenis prosedur audit dan contohnya. Artikel ini, akan mengulas jenis-jenis prosedur ini dan sekaligus menampilkan contohnya. Namun, sebelumnya Anda perlu menyimak Prosedur dan Mekanisme Audit yang Berlaku Umum

Prosedur audit adalah metode yang digunakan auditor untuk memperoleh bukti audit. Bukti audit ini nantinya akan menjadi dasar bagi auditor dalam memberikan opini mereka atas laporan keuangan. Selain itu, prosedur audit dilakukan untuk menguji berbagai asersi audit yang terkait dengan kelas transaksi dan saldo akun yang berbeda.

Auditor perlu menerapkan berbagai jenis prosedur audit untuk memperoleh bukti audit yang akurat. Dalam hal ini, prosedur yang dilakukan auditor biasanya tergantung pada risiko yang dihadapi auditor.

Auditor perlu menggunakan pertimbangan profesional mereka untuk merancang prosedur audit yang sesuai untuk merespons risiko yang dinilai. Selain itu, berbagai jenis prosedur audit biasanya didasarkan pada berbagai jenis bukti audit yang ingin diperoleh auditor.

8 Jenis Prosedur Audit 

Delapan jenis prosedur audit ini adalah sebagai berikut:

  • penyelidikan
  • konfirmasi
  • pemeriksaan catatan atau dokumen
  • pemeriksaan aset berwujud
  • pengamatan
  • penghitungan ulang
  • kinerja ulang
  • prosedur analitis

Contoh Prosedur Audit Teknik Enquiry

Enquiry adalah proses meminta penjelasan kepada klien tentang proses atau transaksi yang terkait dengan laporan keuangan. Jenis prosedur audit ini biasanya melibatkan pengumpulan bukti verbal. Demikian pula, auditor menggunakan prosedur permintaan keterangan untuk berbagai macam proses audit.

Contoh prosedur audit inquiry ini misalnya, auditor dapat meminta klien untuk memahami bisnis dan lingkungan pengendalian; atau mereka mungkin menanyakan tentang transaksi atau saldo item baris laporan keuangan.

Bukti yang dikumpulkan melalui penyelidikan formal atau informal umumnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai bukti yang meyakinkan. Oleh karena itu, auditor umumnya akan menerapkan prosedur jenis lainnya. Seperti, memeriksa beberapa dokumen pendukung untuk mengecek apakah keterangan klien benar-benar akurat dan dapat dipercaya.

Teknik Konfirmasi

Konfirmasi mirip dengan penyelidikan karena juga merupakan prosedur untuk meminta informasi. Namun, konfirmasi biasanya dilakukan dengan meminta pihak ketiga, bukan klien, untuk mengkonfirmasi transaksi dan saldo.

Jenis prosedur audit ini biasanya dilakukan melalui surat tertulis formal. Auditor biasanya melakukan prosedur konfirmasi untuk menguji saldo akun seperti piutang, hutang dagang, dan saldo bank, dll.

Misalnya, auditor biasanya melakukan konfirmasi atas saldo bank milik klien untuk mendapatkan bukti keberadaannya serta penegasan hak dan kewajiban.

Pemeriksaan catatan atau dokumen

Pemeriksaan catatan atau dokumen adalah proses pengumpulan bukti dengan memeriksa catatan atau dokumen. Jenis prosedur audit ini dapat dilakukan dengan cara menjamin catatan transaksi ke dokumen pendukung atau menelusuri dokumen pendukung ke catatan transaksi.

Sebagai contoh, auditor dapat menggunakan prosedur inspeksi untuk menguji asersi terjadinya transaksi biaya dengan menjamin mereka menerima laporan, faktur pemasok, dan pesanan pembelian.

Asersi audit seperti kejadian, akurasi, dan cut-off biasanya diuji dengan memeriksa dokumen-dokumen untuk mendukung transaksi akuntansi dalam catatan perusahaan (vouching). Dan pernyataan kelengkapan biasanya diuji dengan memilih dokumen dan menelusurinya kembali ke catatan perusahaan (tracing).

Pemeriksaan aset berwujud

Pemeriksaan aset berwujud adalah proses pemeriksaan fisik aset berwujud perusahaan seperti properti, pabrik, dan peralatan. Jenis prosedur audit ini dapat memberikan bukti keberadaan aset berwujud.

Contoh prosedur audit ini adalah bahwa auditor dapat menguji asersi keberadaan aset tetap dengan melakukan pemeriksaan fisik aset yang dicatat dalam daftar aset tetap.

Selain itu, perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan saja tidak akan memberikan bukti tentang hak dan kewajiban. Untuk asersi audit ini, auditor mungkin perlu memeriksa dokumen hukum aset.

Pengamatan Atau Observasi

Observasi adalah proses yang dilakukan auditor dengan melihat prosedur yang dilakukan oleh klien. Jenis prosedur audit ini memberikan bukti bahwa prosedur klien benar-benar terjadi pada saat auditor melakukan observasi.

Pengamatan berbeda dengan pemeriksaan fisik aset karena pemeriksaan fisik aset sebenarnya sama dengan penghitungan aset sedangkan pengamatan hanya berfokus pada aktivitas klien.

Misalnya, auditor dapat melakukan prosedur observasi dengan menyaksikan penghitungan persediaan oleh klien. Prosedur observasi ini untuk menguji keberadaan prosedur penghitungan inventaris klien, bukan keakuratan inventaris klien.

Perhitungan ulang

Perhitungan ulang adalah proses penghitungan ulang pekerjaan yang telah dilakukan klien untuk melihat apakah terdapat hasil yang berbeda antara pekerjaan auditor dan pekerjaan klien. Jenis prosedur audit ini biasanya digunakan untuk menguji penilaian dan alokasi asersi laporan keuangan.

Misalnya, auditor dapat melakukan penghitungan ulang atas penyusutan aset tetap untuk menguji asersi penilaian mereka.

Performa Ulang

Re-performance adalah proses auditor secara independen melakukan prosedur pengendalian yang semula dilakukan sebagai bagian dari sistem pengendalian internal oleh klien. Jenis prosedur audit ini digunakan untuk menguji prosedur pengendalian klien.

Sebagai contoh, auditor dapat menggunakan prosedur audit kinerja ulang dalam pengujian pengendalian atas prosedur rekonsiliasi bank yang telah dilakukan oleh klien.

Prosedur analitis

Prosedur analitik adalah proses mengevaluasi informasi keuangan melalui analisis kecenderungan, rasio atau hubungan antar data baik data keuangan maupun non keuangan. Auditor menerapkan prosedur audit ini dengan cara menganalisis transaksi atau saldo akun dan membandingkannya dengan catatan yang dimiliki klien.

Jika auditor menemukan bahwa catatan klien tidak konsisten dengan ekspektasi mereka, mereka akan menyelidiki lebih lanjut tentang varian yang ada. Investigasi mungkin melibatkan melakukan tes yang lebih substantif.

Sebagai contoh, auditor melakukan analisis terhadap akun beban bunga dengan cara mengkomparasikan dan mengalikan tingkat bunga rata-rata dengan saldo pinjaman rata-rata. Selanjutnya, auditor menggunakan hasilnya telaahnya dan akan dibandingkan dengan jumlah yang dicatat oleh klien. Jika terjadi perbedaan yang signifikan, maka akan diselidiki lebih lanjut.

Demikianlah beberapa jenis dan contoh prosedur audit yang biasa diterapkan oleh Auditor saat melakukan pemeriksaan dalam rangka mencari bukti yang valid. Jika Anda adalah auditor pastikan teknik yang Anda gunakan benar-benar relevan dalam hal ini.

Opini Wajar Tanpa Pengecualian; Ulasan dan Contohnya

Opini wajar tanpa pengecualian adalah opini audit yang diberikan oleh auditor eksternal independen ketika mereka menyimpulkan bahwa laporan keuangan klien tidak mengandung salah saji material. Demikian pula, ketika auditor memberikan opini wajar tanpa pengecualian, itu berarti mereka telah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat untuk mendukung pendapat mereka bahwa tidak ada yang salah dengan laporan keuangan dari perspektif material.

Dengan kata lain, opini wajar tanpa pengecualian dari auditor berarti laporan keuangan perusahaan disajikan secara wajar, atau memberikan pandangan yang benar dan wajar, dalam semua hal yang material dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.

Yang dimaksud dengan “menyajikan secara wajar” atau “memberikan pandangan yang benar dan wajar” di sini berarti bahwa informasi dalam laporan keuangan adalah faktual dan benar-benar ada dalam pembukuan dan pencatatan perusahaan. Selain itu, mereka mencerminkan substansi komersial dari transaksi bisnis dan peristiwa perusahaan. Terakhir, mereka mematuhi aturan dan regulasi akuntansi yang berlaku.

Penting untuk dicatat bahwa ketika auditor memberikan opini wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan, itu tidak berarti bahwa klien dalam keadaan baik atau buruk. Auditor hanya menyatakan pendapatnya bahwa informasi dalam laporan keuangan adalah benar dan adil, yang mencerminkan substansi ekonomi aktual dari bisnis klien.

Contoh Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Sebagai contoh, opini Wajar Tanpa Pengecualian yang diberikan auditor atas laporan keuangan Perusahaan ABC dalam laporan audit akan terlihat seperti di bawah ini:

Umumnya, auditor akan memberikan opini wajar tanpa pengecualian dalam laporan auditnya ketika tidak ditemukan kesalahan material. Hal ini dikarenakan biasanya auditor akan berkomunikasi dengan manajemen klien untuk mengusulkan penyesuaian audit untuk memperbaiki salah saji tersebut. Akibatnya, laporan keuangan setelah penyesuaian biasanya tidak mengandung salah saji material.

Namun, terkadang klien dapat menolak proses penyesuaian audit karena beberapa alasan. Misalnya penyesuaian akan berdampak negatif pada perjanjian pinjaman atau prospek keuangan, dll. Dalam hal ini, auditor perlu mengevaluasi apakah memberikan opini wajar tanpa pengecualian pada keuangan klien merupakan pernyataan yang masih sesuai.

Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelas

Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan paragraf penjelas adalah kondisi dimana auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak mengandung salah saji material. Akan tetapi, mereka yakin bahwa pengungkapan tambahan penting untuk pemahaman pengguna atas laporan keuangan.

Dalam hal ini, auditor akan memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian dengan memberikan paragraf penjelas di bawah paragraf opini untuk mengungkapkan hal yang mereka yakini signifikan dalam laporan audit. Demikian pula, tujuan utama penekanan paragraf masalah adalah untuk menarik perhatian pengguna ke masalah yang diungkapkan.

Beberapa contoh keadaan yang menyebabkan auditor memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan penekanan pada paragraf hal tersebut antara lain:

  • Ketidakpastian materi
  • Bencana besar
  • Transaksi pihak terkait, dll.

Pendapat yang tidak memenuhi syarat dengan aspek going concern

Dalam audit, going concern didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan untuk melanjutkan operasinya di masa depan (minimal 12 bulan dari tanggal pelaporan).

Demikian pula, auditor memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi apakah terdapat keraguan yang signifikan tentang kemampuan klien. Untuk menilai apakah penggunaan basis akuntansi kelangsungan usaha oleh klien sudah tepat.

Contoh kondisi yang menyebabkan status kelangsungan usaha klien dipertanyakan mungkin termasuk:

  • Penurunan kinerja keuangan untuk jangka waktu yang lama.
  • Rasio keuangan yang merugikan
  • Uang tunai negatif dari operasi
  • Gagal membayar pembayaran pinjaman
  • Kasus pengadilan luar biasa yang signifikan, dll.

Jika auditor menyimpulkan bahwa penggunaan status going concern oleh klien sudah sesuai dan tidak ada ketidakpastian yang signifikan. Auditor akan menerbitkan laporan audit standar dengan opini wajar tanpa pengecualian.

Di sisi lain, jika status kelangsungan usaha klien sesuai (dengan pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan) tetapi terdapat ketidakpastian material yang masih ada sebagai tanggal laporan. Auditor perlu mengeluarkan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan pengungkapan tentang ketidakpastian tersebut dalam laporan keuangan. laporan audit.

Dalam hal ini, paragraf terpisah, yang merupakan ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha, diperlukan dalam laporan audit untuk mengungkapkan peristiwa dan kondisi terkait tersebut.

Demikianlah sedikit ulasan mengenai opini wajar tanpa pengecualian beserta contohnya. Untuk lebih jelasnya Anda bisa menyimak artikel sebelumnya tentang 5 Jenis Opini Audit Plus Contoh Lengkapnya

5 Jenis Opini Audit Plus Contoh Lengkapnya

Sebelumnya kita telah menyinggung format laporan audit standar yang di dalamnya membahas pula mengenai opini audit “wajar tanpa pengecualian”, pada bahasan kali ini kita akan mengulas mengenai opini audit yang tidak standar.

Pengertian Opini Audit

Opini audit adalah pendapat yang diberikan oleh akuntan publik atau auditor atas proses audit yang telah dilakukannya pada instansi tertentu. Dalam hal ini auditor akan melakukan penilaian atas laporan keuangan yang disajikan dan kemudian memberikan pendapatnya tentang kualitas dari perusahaan yang diaudit. Adapun contoh dari opini “wajar tanpa pengecualian” adalah sebagai berikut:

Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Jenis Opini Audit dan Contohnya

Dalam standar profesional akuntan publik yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia laporan/opini audit yang menyimpang dari standar terdiri dari empat kategori, yaitu:

1. Opini Wajar dengan Bahasa Penjelasan

Opini ini sebenarnya masih merupakan pendapat yang berisi pendapat “wajar tanpa pengecualian” hanya saja ada kondisi tertentu yang mengharuskan auditor menambah kalimat penjelas dalam paragraf pendapat. Artinya, terdapat tambahan kalimat penjelas dari paragraf dalam laporan standar. Sesuai dengan standar profesional akuntan, keadaan-keadaan yang mengharuskan auditor menambah kalimat penjelas tersebut adalah:

  • Pendapat auditor yang sebagian pendapatnya didasarkan atas laporan auditor lainnya
  • Menghindari laporan keuangan yang menyesatkan, sebab adanya keadaan tertentu yang sifatnya luar biasa.
  • Laporan keuangan, ternyata memiliki format yang berbeda dari pedoman yang ada dalam prinsip akuntansi yang dikeluarkan oleh IAI
  • Keuangan yang dilaporkan ternyata dipenuhi oleh unsur ketidakpastian, misalnya peristiwa di masa yang akan datang dan tidak bisa diperkirakan hitungannya pada saat laporan audit dilaksanakan.
  • Adanya keraguan yang cukup besar berdasarkan fakta audit, jika perusahaan dalam melangsungkan usahanya di masa depan
  • Adanya perubahan material diantara dua periode, baik dalam penerapannya atau prinsip akuntansi yang digunakan.
  • Keadaan lain yang memiliki hubungan erat dengan audit atas laporan keuangan.
  • Tidak disajikannya data keuangan kuartal yang diwajibkan oleh BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal)

Untuk lebih memahaminya berikut adalah contohnya nya:

Opini Audit Wajar Dengan Penjelasan

2. Pendapat wajar dengan pengecualian

Opini audit wajar dengan pengecualian diberikan oleh auditor apabila setelah melakukan pemeriksaan ditemukan beberapa kondisi berikut ini:

  • Tidak mencukupinya bukti yang sifatnya kompeten atau karena pihak manajemen perusahaan membatasi ruang lingkup kewenangan audit secara sengaja.
  • Ditemukan penyimpangan-penyimpangan dari standar yakni prinsip-prinsip akuntansi yang telah berlaku secara umum (standar akuntansi keuangan) di dalam laporan yang disusun pihak manajemen. Laporan ini memiliki dampaknya cukup materil terhadap tingkat kewajaran penyajian laporan keuangan yang disajikan.

Dalam menyatakan opini audit ini, Auditor harus secara tegas mencantumkan kalimat “dengan pengecualian” dalam laporannya. Selain itu auditor juga harus menguatkan pendapatnya dengan mencantumkan beberapa paragraf penjelas sebagai alasan mengapa pendapat itu dikeluarkan.

Opini Wajar Dengan Pengecualian

Di dalam standar profesional akuntan publik ditegaskan bahwa, untuk pendapat dengan pengecualian agar dihindarkan penggunaan frasa “tergantung pada” (subject to) karena frasa tersebut maknanya tidak jelas sehingga dapat di salah tafsirkan oleh pihak pemakai laporan.

Opini Wajar Dengan Pengecualian 2

3. Pendapat Tidak Wajar

Opini audit ini umumnya diberikan oleh auditor ketika menemukan bahwa laporan keuangan yang disajikan ternyata tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. Dalam memberikan pendapat ini, akuntan publik harus menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami mengenai alasan dasar dikeluarkannya pendapat tersebut. Selain itu, Auditor juga harus menjelaskan dampak dari pendapatnya terhadap laporan keuangan, hasil usaha perusahaan hingga arus kas yang ada. Jika auditor memberikan pendapat tidak wajar, paragraf pendapat harus berisi penunjukkan langsung ke paragraf terpisah yang menjelaskan dasar untuk pendapat tidak wajar tersebut.

Sebagai contoh misalnya, kesalahan dalam menyajikan nilai aktiva tetap perusahaan yang disajikan dalam neraca ternyata didasarkan pada penilaian kembali nilai aktiva. Seharusnya dalam menyajikan nilai aktiva tetap harus didasarkan pada harga perolehan. Penyusutan aktiva tetap dihitung berdasarkan nilai tersebut.

Pendapat Tidak Wajar

4. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan oleh auditor apabila, adanya pembatasan terhadap ruang lingkup audit, sehingga tidak dapat melaksanakan yang cukup untuk memungkinkan auditor memberikan pendapat atas laporan keuangan yang di audit nya. Jika pernyataan tidak memberikan pendapat disebabkan karena adanya pembatasan ruang lingkup audit, auditor harus menunjukkan dalam paragraf terpisah, alasan mengapa audit yang dilakukannya tidak berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Tidak Menyatakan Pendapat

Dalam pendapat ini, Auditor harus menyatakan bahwa ruang lingkup audit yang telah dilakukannya, tidak cukup memadai untuk dijadikan dasar sebagai bukti untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor juga harus menjelaskan beberapa keberatan lain yang berhubungan dengan tingkat kewajaran penyajian informasi dari laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum.

Sebagai contoh misalnya ketika pelaksanaan audit, ternyata pihak manajemen perusahaan enggan untuk melaksanakan inventori taking. Bukti-bukti yang mendukung harga perolehan aktiva tetap sebelum tahun dilaksanakannya audit ternyata tidak bisa disajikan oleh perusahaan karena hilang dari arsip perusahaan. Dalam hal ini, Auditor tidak dapat menggunakan prosedur audit lainnya terhadap persediaan dan aktiva tetap.