Arsip Tag: perencanaan keuangan

Laporan Keuangan Syariah; Sejarah, Format dan Contohnya

Entitas syariah memiliki karakter yang berbeda dengan entitas lainnya, oleh karena itu laporan keuangan syariah yang dibuat juga memiliki karakter yang berbeda. Sehubungan dengan itu, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan pedoman penyajian laporan keuangan untuk bank syariah tersendiri pada tahun 2007. Apa dan bagaimana isi pedoman tersebut?

Sejarah Laporan Keuangan Syariah

Pedoman khusus mengenai penyusunan laporan keuangan untuk entitas syariah ini dikeluarkan pertama kali oleh DSAK IAI (Dewan Standar Akuntansi Syariah Ikatan Akuntan Indonesia), tepatnya pada 27 Juni 2007 lalu.

Kemudian pada tahun 2013 kewenangan yang sebelumnya dimiliki oleh DSAK IAI ini dialihkan kewenangan kepada Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAS IAI) sesuai dengan surat resmi dari Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI No. 0823-B/DPN/IAI/XI/2013.

Secara kronologis berikut adalah sejarah dari akuntansi syariah di Indonesia:

  • Terdapat revisi atas Pedoman Standar Akuntansi Keuangan ke-1 bagian Penyajian Laporan Keuangan, pada 16 Desember 2011;
  • Bagian penyajian laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain, pada 15 Oktober 2014 dilakukan penyesuaian ulang;
  • Sebagai dampak dari adanya revisi PSAK 108 tentang Akuntansi Transaksi Keuangan Syariah, dilakukan perubahan pada lampiran bagian B yakni penyajian laporan keuangan syariah.

Format Laporan Keuangan Syariah

Berdasarkan pada PSAK 101 format laporan keuangan syariah serta beberapa unsur pokok serta ketentuan spesifik lainnya ditentukan sebagai berikut:

Berdasarkan pedoman tersebut di atas, karakteristiknya adalah sebagai berikut:

1. Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan Terhadap PSAK

Ini berarti bahwa seorang akuntan harus mampu menentukan dan mengimplementasikan penyajian secara wajar yang didasarkan pada kebijakan akuntansi, estimasi perubahan akuntansi, unsur kesalahan berdasarkan pada PSAK Nomor 25. Akuntansi juga harus mampu menyajikan laporan keuangan syariah yang mudah dimengerti, andal dan relevan. Selain itu, sebagai pendukung dapat ditambahkan informasi lain seperti mata uang dan sejenisnya.

2. Dasar Akrual

Karakteristik dalam entitas syariah adalah pengakuan penghasilan terhadap sesuatu yang benar-benar terjadi. Dasar akrual ini juga menunjukkan bahwa pengakuan pendapatan pada bank syariah harus benar-benar sudah diperoleh dan bukan pendapatan yang baru akan diperoleh dikemudian hari.

3. Materialitas dan Penggabungan

Artinya entitas atau perusahaan harus menyajikan secara terpisah kelompok pos-pos yang sifatnya material. Materialitas menunjukkan bahwa laporan keuangan merupakan proses yang menghasilkan informasi keuangan, informasi ini diolah dan diklasifikan berdasarkan jenis dan fungsinya. Ketika dalam proses klasifikasi ditemukan adanya pos yang tidak material, maka dalam prosesnya dapat dilakukan penggabungan dengan pos lain yang sifatnya material.

4. Saling Hapus

Maksud dari saling hapus ini adalah bahwa akuntan tidak melakukan kesalahan atau menghapus suatu akun berdasarkan pertimbangan atau logika akuntansi yang salah. Misalnya, menggunakan liabilitas untuk menghapus aset, beban dengan pendapatan. Sebagai ilustrasi, perusahaan A tidak boleh mengakui hutang sebesar 100 juta saja, ketika meminjam dari pihak lain sebesar 400 juta, meskipun pihak lain tersebut dalam kondisi berhutang kepadanya sebesar 300 juta.

5. Frekuensi Pelaporan

Artinya entitas melakukan pelaporan minimal satu tahun sekali atau secara periodik dilakukan misalnya triwulan atau 6 bulan sekali. Jika kemudian laporan keuangan dibuat melebihi periode yang seharusnya, maka akuntan harus dapat mengemukakan alasan-alasan yang logis mengapa laporan dibuat melebihi periode sebelumnya dan juga menunjukkan beberapa bukti jika laporan keuangan bersangkutan memang tidak dapat dibandingkan dengan laporan sebelumnya atau secara keseluruh.

6. Konsistensi Penyajian

Tentu konsistensi penyajian merupakan tolak ukur utama ketika akuntan membuat laporan keuangan. Ada dua kondisi yang membolehkan akuntan untuk berlaku inkonsisten yakni:

  • Setelah mempertimbangkan aturan dalam PSAK 25 ditemukan bahwa penyajian akan lebih tepat jika dilakukan dalam pos lain;
  • Diperbolehkan oleh PSAK

Format Laporan Keuangan Syariah

Adapun standar format dari laporan keuangan syariah berdasarkan PSAK 101 adalah sebagai berikut:

1. Laporan Posisi Keuangan

Laporan posisi keuangan ini sering disebut dengan neraca keuangan yakni salah satu bagian dari laporan keuangan dari entitas dalam suatu periode tertentu yang menunjukkan tingkat keseimbangan antara aktiva dan pasiva.

2. Laporan Laba Rugi

Laporan yang menunjukkan posisi atau selisih antara seluruh penghasilan perusahaan dalam periode tertentu yang dikurangi dengan beban yang dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan tersebut.

3. Laporan Perubahan Modal

Bagian laporan keuangan yang menunjukkan nilai perubahan modal dari suatu periode ke periode selanjutnya.

4. Laporan Arus Kas

Adalah bentuk rinci dari setiap pengeluaran kas yang dilakukan oleh perusahaan dan pemasukan yang diperoleh perusahaan.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Dalam laporan keuangan , akuntan juga dapat memberikan beberapa catatan mengenai laporan keuangan yang dibuatnya.

Contoh Laporan Keuangan Syariah

Agar Anda dapat dengan mudah memahami format laporan keuangan tersebut di atas, silahkan lihat contoh berikut ini:

Demikianlah ulasan mengenai laporan keuangan syariah sesuai dengan PSAK 101. Yang perlu diperhatikan bahwa laporan keuangan perbankan berbeda dengan laporan keuangan perusahaan dagang dan jasa.

Bukti Audit Pengertian, Jenis dan Contohnya

Untuk memberikan opini audit, tidak hanya dipertimbangkan berdasarkan asumsi auditor semata. Setiap pendapat haruslah didasarkan fakta dan data atau biasa disebut bukti audit.

Apa Itu Bukti Audit

Bukti Audit (Audit Evidence) merupakan segala jenis informasi relevan yang nanti akan digunakan oleh akuntan publik/konsultan hukum/auditor sebagai dasar dalam mengeluarkan opini auditnya. Bukti ini dalam laporan keuangan umumnya berbentuk nominal, dalam legal audit berbentuk dokumen hukum. Selain itu, bukti bisa juga berupa hasil observasi auditor dan hasil wawancara yang dilakukan kepada pihak terkait.

Seorang auditor pasti membutuhkan bukti audit ini sebagai dasar dalam mengeluarkan opini yang dapat dipercaya dan berkualitas. Bukti ini bisa didapatkan melalui beragam cara yakni bisa melalui inspeksi, pengamatan, meminta keterangan dari pihak terkait, dan melakukan konfirmasi atas laporan-laporan yang sebelumnya telah dikirimkan kepada auditor.

Bagaimana Cara Auditor Mengukur Kelayakan Bukti Audit?

Perusahaan umumnya selalu menyediakan bukti atas informasi yang diberikan kepada auditor. Bahkan, bukti yang dihadirkan terkadang berjumlah besar dan bertumpuk antara satu jenis bukti dengan bukti lainnya. Diantara berbagai bukti yang disediakan seringkali perusahaan menyuguhkan bukti-bukti yang sesungguhnya tidak relevan dengan maksud dilakukannya audit. Oleh karena itu, umumnya auditor akan melakukan seleksi terhadap kelayakan bukti audit ini. Adapun beberapa hal yang umumnya dijadikan dasar oleh auditor untuk mengukur kelayakan audit evidence adalah sebagai berikut:

1. Pertimbangan Profesional Auditor

Auditor wajib menguasai bidang keilmuan baik teoritis maupun praktis terhadap objek yang diaudit. Dalam audit hukum, auditor harus menguasai keilmuan bidang hukum. Demikian halnya dalam bidang audit keuangan, auditor haruslah seorang akuntan publik. Kompetensi tersebut nantinya akan digunakan oleh auditor melakukan screening secara cepat dan tepat terhadap laporan keuangan atau dokumen hukum yang disediakan oleh perusahaan. Melalui pertimbangan profesional, seorang auditor akan dengan mudah menilai mana bukti yang relevan dan bukti non-relevan.

2. Integritas Manajemen

Terkadang seorang auditor juga menilai track record dari pihak manajemen, bagaimana selama ini profil mereka, bagaimana tingkat integritas mereka. Ini juga mempengaruhi keyakinan auditor terhadap segala bukti yang diajukan.

3. Status Badan Hukum

Status badan hukum dari suatu perusahaan juga akan mempengaruhi cara penilaian bukti oleh auditor. Badan hukum perseroan terbatas tentu akan dinilai lebih detail dibandingkan dengan badan hukum CV, dan seterusnya.

4. Kondisi Keuangan

Dalam audit keuangan, financial condition menjadi faktor yang sangat menentukan apakah auditor akan menilai secara detail (satu per-satu) bukti yang disodorkan atau hanya melihat sampel saja. Semakin baik kondisi keuangan yang baik tentu buktinya berbeda dengan ketika kondisi keuangan perusahaan buruk.

Cara Mengukur Kualitas Bukti Audit

Sejauh mana bukti-bukti yang ada dapat dipercaya? Bagaimana cara mengukurnya? Untuk menjawab ini auditor harus memiliki indikator yang dijadikan olehnya sebagai dasar pertimbangan dalam mengukur tingkat kompeten dari bukti audit. Semakin kompeten bukti yang diberikan, maka semakin baik nilai dari kewajaran atas laporan keuangan yang disodorkan perusahaan. Adapun indikator-indikator tersebut adalah sebagai berikut:

1. Relevansi

Bukti audit yang diberikan haruslah relevan dengan tujuan dilaksanakannya audit. Misalnya, ketika yang ingin di audit dalam perusahaan adalah persediaan, maka bukti yang paling relevan adalah dengan cara melihat langsung stok persediaan yang ada.

2. Sumber Perolehan Bukti

Asal peroleh bukti juga menjadi dasar pertimbangan yang menentukan bagi seorang audit, informasi yang diperoleh dari pihak lain yang independen akan semakin dipercaya. Kemudian, informasi yang bersalah dari manajemen internal yang sangat transparan dengan pengelolaan yang baik, pasti dapat lebih dipercaya. Terakhir, informasi yang diperoleh auditor sendiri melalui pengamatan, inspeksi dan sejenisnya tentu lebih dapat dipercaya.

3. Ketepatan Waktu

Dalam audit keuangan ketepatan waktu atau tanggal dari bukti audit sangat menentukan tingkat validitas, terutama bila yang diaudit adalah mengenai hutang dan aktiva lancar, laporan laba rugi, surplus keuangan, dan sejenisnya. Ketepatan waktu digunakan untuk mengetahui apakah pengakuan yang dilakukan sudah tepat. Ketepatan waktu ini dalam audit hukum juga berpengaruh, ini bisa digunakan untuk menilai ketaatan perusahaan terhadap aturan hukum seperti pajak.

4. Objektivitas

Bukti yang sifatnya objektif tentu lebih baik dari bukti yang sifatnya subjektif. Bagaimana cara menentukan suatu bukti adalah objektif atau subjektif? Tentu caranya adalah dengan menentukan siapa yang menandatangani bukti dan siapa yang memberikan bukti tersebut.

Jenis Bukti Audit

Setelah mengetahui beberapa hal penting mengenai bukti dalam proses audit ini, selanjutnya penting untuk Anda mengetahui jenis-jenis dari audit evidence ini. Adapun secara detail berikut adalah uraiannya:

1. Pengujian Fisik

Bukti jenis ini adalah fakta atau informasi yang diperoleh oleh auditor dengan cara melihat secara langsung fisik dari aset perusahaan. Misalnya fisik dari persediaan yang dimiliki perusahaan. Pengujian fisik ini digunakan dalam audit hukum misalnya untuk melakukan cek kebenaran luas tanah yang tertera dalam sertifikat tanah.

2. Konfirmasi

Bukti konfirmasi ini adalah fakta yang diperoleh auditor berdasarkan pernyataan, baik bersifat langsung maupun tertulis oleh pihak ketiga yang independen. Auditor umumnya lebih memilih bukti yang sifatnya tertulis dibandingkan bukti yang sifatnya pernyataan langsung, sebab lebih mudah dianalisis.

3. Dokumentasi

Dalam memperoleh bukti yang valid, setelah melakukan pengujian fisik atau terhadap bukti barang yang sifatnya habis pakai, atau berupa kegiatan maka cara pembuktian yang paling relevan adalah dengan melakukan dokumentasi.

4. Analitis

Bukti analitis ini berkaitan dengan kompetensi keilmuan dari auditor, dalam memperoleh bukti analitis ini umumnya auditor akan membandingkan suatu objek dengan objek lainnya. Atau dalam laporan keuangan auditor tentu akan melakukan perbandingan antara neraca saldo dengan beberapa laporan keuangan lainnya seperti laba-rugi.

5. Wawancara

Wawancara ini diperlukan sebagai bukti pendukung, misalnya untuk menilai bagaimana kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan, bukti yang paling valid antara lain adalah dengan melakukan wawancara terhadap pegawai atau organisasi dibawahnya.

6. Perhitungan Ulang

Bukti ini hanya berlaku jika yang diaudit adalah laporan keuangan. Teknik ini digunakan untuk mengukur validitas hasil perhitungan yang dilakukan klien.

7. Observasi

Meskipun hampir sama pengujian fisik, tapi prakteknya berbeda. Pengujian fisik lebih detail dari observasi, sebab dalam observasi ini hanya dilakukan pengamatan saja tanpa melakukan kontak fisik. Namun, metode ini juga bisa mendapatkan fakta lain yang lebih valid dibandingkan dengan uji fisik. Tujuannya tentu berbeda, bila uji fisik dilakukan untuk melakukan cek terhadap informasi yang dicantumkan, observasi dilakukan untuk tujuan memperoleh data diluar informasi yang disediakan.

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian dari bukti audit, jenis dan beberapa contohnya. Untuk mendapatkan informasi lebih rinci mengenai tema ini, Anda bisa menyimak makalah postingan kami tentang Audit Eksternal.

Laporan Audit Standar; Format dan Cara Membuatnya

Laporan audit adalah media komunikasi yang digunakan oleh auditor, bersifat formal untuk mengomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan tentang kesimpulan dari pelaksanaan audit yang telah dilaksanakan. Umumnya laporan audit ini terbagi menjadi dua yakni laporan audit standar dan tidak standar. Untuk pembahasan di bawah ini akan di uraikan penjelasan mengenai laporan audit yang sifatnya standar.

Laporan audit standar

Laporan standar merupakan bentuk laporan yang lazim diterbitkan. Laporan standar merupakan laporan yang memuat pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) yang menyatakan bahwa suatu laporan keuangan (pen-bila yang diaudit adalah laporan keuangan) menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang bersifat material, diantaranya adalah arus kas dari entitas yang ada, posisi keuangan perusahaan, hasil usaha yang diperoleh, yang dinilai berdasarkan tingkat kesesuaian nya dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Dalam laporan audit dengan opini “wajar tanpa pengecualian” baru dapat diterbitkan oleh Auditor ketika semua syarat dan kondisi terpenuhi sesuai kriteria yang ditetapkan. Selain itu, juga tidak terdapat adanya kesalahan dalam penyajian informasi dalam laporan keuangan yang berpengaruh secara signifikan. Laporan keuangan ini dinilai oleh akuntan publik berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan mengakui bahwa mereka mendapatkan untung pada tahun 2020 ini. Setelah dilakukan Audit, ternyata akuntan publik menemukan bahwa keuntungan tersebut didasarkan pada piutang yang belum dibayar. Temuan tersebut, merupakan bentuk salah saji dalam laporan keuangan yang bersifat signifikan, karena alasan tersebut maka Auditor tidak bisa menerbitkan pendapat “wajar tanpa pengecualian”.

Cara Membuat Laporan Audit Standar

Proses membuat laporan audit standar di bawah ini juga berlaku untuk laporan audit yang sifatnya menyimpang dari standar. Isinya tidak jauh berbeda dengan laporan audit lainnya. Hanya saja akan ada perbedaan pada bagian pendapat Auditor dan paragraf ruang lingkup yakni bagian kesimpulannya.  Laporan audit wajar tanpa pengecualian ini berisi:

1. Judul laporan

Dalam laporan audit, baik laporan yang bersifat standar atau tidak harus dicantumkan kata “Independen” pada bagian judulnya. Contohnya adalah kalimat berupa “laporan audit independen” atau kalimat berupa “pendapat akuntan independen”. Kata independen ini menunjukkan bahwa audit telah dilakukan secara netral, transparan, dan akuntabel atau sederhananya tidak memihak. Kata ini juga mengandung konsekuensi bahwa jika di kemudian hari ditemukan adanya keberpihakan Auditor terhadap perusahaan yang di audit, maka Auditor bersangkutan wajib bertanggungjawab.

2. Alamat Laporan Audit

Maksud dari alamat audit ini bukanlah alamat dari kantor akuntan publik. Alamat yang dimaksud adalah alamat dari kantor/institusi/perusahaan yang diaudit. Alamat ini harus mencerminkan secara spesifik entitas yang terhadapnya dilakukan audit.

3. Paragraf Pendahuluan

Paragraf pendahuluan harus memuat tiga pernyataan faktual. Tujuan dari adanya penyataan ini adalah agar pembaca laporan dapat membedakan mana tanggung jawab pihak manajemen dan tanggung jawab pihak akuntan publik sebagai auditor. Ada tiga hal yang wajib dimuat dalam paragraf pendahuluan ini, yakni:

  • Suatu pernyataan bahwa auditor telah melaksanakan audit. Pernyataan ini dapat membedakan mana proses audit, mana proses monitoring dan mana proses evaluasi saja.
  • Menyatakan jenis laporan keuangan yang diaudit, termasuk tanggal neraca serta periode akuntansi untuk laporan laba rugi dan laporan arus kas.
  • Menyatakan bahwa penyiapan serta isi laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen, sedangkan tanggung jawab auditor hanyalah sebatas pada pemberian opini atas laporan keuangan tersebut.

4. Paragraf Ruang Lingkup

Dalam paragraf ruang lingkup ini harus dimuat beberapa paragraf yang menyatakan bahwa Auditor secara faktual telah melakukan hal-hal yang disebut dalam proses audit. Standarnya pernyataan faktual dalam paragraf ruang lingkup di harus dimuat beberapa hal sebagai berikut:

  • Kalimat yang menyatakan bahwa audit telah dilakukan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum.
  • Kalimat yang menyatakan bahwa program audit telah dirancang untuk mengidentifikasi hal-hal yang berkaitan dengan salah saji informasi dalam LPJ keuangan yang disediakan perusahaan.
  • Pernyataan bahwa auditor telah memperoleh “keyakinan yang sifatnya memadai”, istilah ini digunakan karena auditor hanya bisa mengidentifikasi data-data yang disajikan oleh klien saja, adapun data yang oleh klien sengaja ditutupi bukan termasuk tanggungjawab auditor. Namun, pernyataan ini juga menunjukkan konsekuensi bahwa audit yang dilaksanakan telah memiliki tingkat kepastian yang tinggi.
  • Paragraf ruang lingkup juga menyatakan bahwa atas dasar pengujian, audit meliputi pemeriksaan bukti-bukti yang mendukung jumlah dan pengungkapan laporan keuangan. Berikut adalah contoh dari paragraf ruang lingkup:

5. Paragraf Pendapat

Paragraf pendapat adalah paragraf yang berisi kesimpulan dan pernyataan pendapat akuntan publik terhadap perusahaan yang didasarkan atas hasil audit-nya. Perlu diketahui bahwa, pernyataan dalam paragraf pendapat ini tidaklah bersifat mutlak, akan tetapi pendapat yang muncul atas profesionalisme seorang auditor. Dalam paragraf terakhir ini, auditor wajib menyatakan pendapatnya mengenai hasil dari proses audit secara keseluruhan, dan juga kesimpulan berdasarkan prinsip akuntasi yang secara umum berlaku. Contoh dari paragraf pendapat adalah sebagai berikut:

6. Nama Kantor Auditor

Pada bagian ini disebut dengan jelas nama kantor auditor yang telah melaksanakan audit atas suatu perusahaan/instansi tertentu.

7. Tanda Tangan

Sebagai bentuk perkembangan teknologi, tanda tangan ini bisa dalam bentuk elektronik dan atau tanda tangan manual dengan tinta biasa.

8. Tanggal Pelaporan

Tanggal pelaporan audit adalah hari terakhir laporan dibuat.

Demikianlah format dari laporan audit yang sifatnya standar, berikutnya kita akan membahas laporan yang menyimpang serta jenis-jenisnya.

Pengertian, Jenis dan Tujuan Audit Keuangan

Pengertian dan Tujuan Audit. Dalam laporan keuangan termasuk juga kinerja yang dilakukan perusahaan sering terjadi resiko salah saji terhadap informasi yang diberikan. Resiko salah saji ini disebabkan oleh banyak faktor, baik disebabkan karena kurang akuratnya laporan keuangan yang disusun atau memang karena kesengajaan dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Untuk mengurangi risiko informasi tersebut salah satu yang terpenting adalah dilakukannya Independen Audit oleh Akuntan Publik. Dan ini merupakan cara umum untuk memperoleh informasi yang andal. Dalam rangka mendapatkan informasi yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan bagi pengambil keputusan, maka pihak manajemen perusahaan misalnya dapat meminta jasa akuntan publik untuk mengaudit laporan keuangan dari pihak penyaji informasi. Audit laporan keuangan dapat meningkatkan kepercayaan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan. Selanjutnya informasi yang telah diaudit tersebut dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan dengan anggapan bahwa laporan telah lengkap, dan wajar sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum.[1]

Kebutuhan audit cukup besar karena banyak pemakai yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan. Manajemen perusahaan akan menunjuk auditor untuk meyakinkan pemakai laporan keuangan bahwa laporan keuangan tersebut dapat diandalkan. Auditor dapat dituntut pengambil keputusan, atau perusahaan bila terbukti bahwa laporan keuangan tersebut ternyata tidak benar, tidak seperti yang dilaporkan dalam laporan audit nya. Auditor bertanggung jawab penuh secara legal atas pekerjaannya yang meyakinkan bahwa informasi tersebut andal.[2]

Apa Itu Audit?

Audit adalah proses pemeriksaan secara sistematis guna memperoleh data-data dan melakukan evaluasi terhadap bukti yang dilakukan secara objektif terhadap asersi-asersi kegiatan dan beberapa peristiwa ekonomi dalam suatu lembaga atau perusahaan. Tujuan dari dilaksanakan audit ini adalah untuk menilai derajat validitas dari asersi kegiatan, penyampaian hasil penilaian dan membuat laporan untuk pihak-pihak yang berkepentingan.

  • Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil beberapa poin penting mengenai pengertian dari audit ini yakni:
  • Audit adalah serangkaian langkah prosedural yang direncanakan, bersifat logis, sistematis, terstruktur dan terorganisir.
  • Proses pemeriksaan atas bukti audit dilakukan secara objektif tanpa ada keberpihakan terhadap siapapun.
  • Asersi umumnya terdiri atas laporan keuangan, laporan operasi internal dan hal pokok lainnya.
  • Asersi yang dinilai derajat kesesuaiannya tersebut menunjukkan seberapa dekat asersi yang dibuat dengan kriteria yang telah disepakati dan ditetapkan sebagai standar.
  • Kriteria tersebut dapat berbentuk peraturan yang ditetapkan pemerintah, kebijakan, aturan internal dan anggaran dasar dari perusahaan.
  • Keharusan adanya laporan tertulis dengan format tertentu yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berkepentingan.

Jenis-jenis Audit

Setelah memahami apa itu audit, perlu untuk disinggung sedikit mengenai beberapa jenis audit yang selama ini ada. Adapun jenis-jenis audit tersebut adalah sebagai berikut:

1. Audit Laporan Keuangan

Yakni proses pemeriksaan sistematis oleh seorang akuntan publik terhadap laporan keuangan yang diolah dan disajikan oleh perusahaan.

2. Audit Kepatuhan

Yakni proses pemeriksaan sistematis oleh seorang auditor untuk memeriksa tingkat kepatuhan perusahaan dalam menjalankan kebijakan, peraturan internal  dan anggaran dasar yang telah dibuat. Termasuk juga kepatuhan terhadap SOP yang dikerjakan.

3. Audit Operasional

Yakni proses pemeriksaan sistematis oleh auditor untuk menilai seberapa baik dan seberapa sesuai kinerja yang dilakukan perusahaan termasuk pegawai dalam menjalankan standar kinerja yang telah ditetapkan.

Tujuan Audit

Sebagai tambahan, berikut ini adalah ulasan singkat mengenai tujuan dari dilaksanakannya audit. Adapun detailnya adalah sebagai berikut:

1. Pengendalian Operasional

Audit dilaksanakan dalam rangka agar operasional kegiatan perusahaan tetap terkendali dan tidak menyimpang dari standar yang berlaku.

2. Penilaian Kinerja

Audit juga dapat digunakan untuk menilai apakah kinerja suatu perusahaan mengalami perkembangan atau penurunan.

3. Membantu Manajemen

Dalam hal ini hasil laporan audit dapat dijadikan bukti valid oleh top manajemen untuk membuat kebijakan strategis terhadap perusahaan yang dikelolanya.

Demikianlah ulasan singkat dan pengantar mengenai pengertian audit dan beberapa tujuan dilaksanakan proses audit. Simak ulasan lain pada artikel selanjutnya.

[1] Mulyadi, Auditing, (Jakarta: Salemba Empat, 1998), h.7

[2] Syahriyah Semaun, Aspek Hukum dalam Audit Koperasi, Jurnal Hukum Diktum, Volume 8, Nomor 1, Januari 2010, h.98

Contoh Pembukuan Usaha Kecil dan Cara Membuatnya

Tidak melakukan pembukuan keuangan merupakan kesalahan fatal yang umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil. Ketika usaha dagang mereka laris, pengusaha sering lupa memperhatikan hal penting ini.

Saat jumlah transaksi harian dan omzet usaha terlihat besar, tidak sedikit pengusaha pemula yang menyepelekan pentingnya melakukan pencatatan transaksi. Semakin berjalannya waktu, akhirnya pelaku usaha tidak lagi bisa mengidentifikasi apakah mereka mendapatkan laba yang besar atau hanya mendapatkan laba sedikit saja. Tidak jarang pengusaha yang bertanya-tanya, usahanya laris namun pendapatannya tidak meningkat. Hal ini tentu sangat berbahaya bila terus berlanjut.

Salah satu solusi untuk menghindarinya adalah dengan membuat pembukuan. Lalu bagaimana cara dan contoh pembukuan keuangan ini? Nah, untuk Anda yang sedang mempertanyakan hal yang sama berikut ini adalah panduannya:

Cara Membuat Pembukuan Sederhana Untuk Usaha Kecil

Agar mudah dalam membaca dan memahami contoh pembukuan pengeluaran dan pemasukan, Anda harus memahami terlebih dahulu cara membuat pembukuan ini. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Buatlah Catatan Transaksi Keuangan Anda

Bagi pengelola usaha kecil mencatat transaksi keuangan bukanlah hal yang sulit. Sebab, bagi usaha kecil jenis transaksi yang dilakukan umumnya tidak terlalu banyak. Hal yang perlu Anda lakukan dalam proses ini adalah membuat buku catatan yang terpisah antara satu jenis transaksi dengan transaksi lainnya. Umumnya ada tiga bentuk transaksi yang dilakukan dalam usaha kecil yakni pembelian perlengkapan, biaya operasional, pembelian bahan baku, dan gaji karyawan bila ada.

2. Buatlah Buku Catatan Pemasukan

Langkah kedua setelah membuat buku pengeluaran adalah membuat buku pemasukan. Terdapat dua akun yang harus Anda catat dalam buku ini yakni catatan pemasukan kas dan catatan pemasukan piutang. Membuat buku pemasukan ini sangatlah penting, sebab nantinya akan digunakan untuk mengukur penghasilan usaha kecil Anda dalam kurun waktu tertentu, bisa bulanan, triwulan, maupun tahunan.

3. Buatlah Buku Kas Utama

Setelah kedua buku di atas siap, barulah kemudian Anda bisa membuat buku catatan yang berfungsi untuk menggabungkan kedua catatan di atas. Nama buku ini adalah Buku Kas Umum. Pentingnya, membuat buku ini adalah untuk mengukur dan membandingkan jumlah pemasukan usaha kecil Anda dengan jumlah pengeluaran Anda. Dari buku inilah kemudian Anda bisa mengetahui apakah usaha Anda merugi atau untung.

4. Buatlah Buku Stok Barang/Persediaan

Dalam proses membuat pembukuan keuangan hal urgen yang tidak boleh terlewatkan oleh Anda adalah membuat catatan persediaan barang. Anda harus secara detail mencatat barang/persediaan apa saja yang keluar setiap harinya. Anda juga harus mencatat barang apa saja yang Anda beli dalam waktu tertentu. Buku ini berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap segala jenis barang yang ada pada usaha Anda.

5. Buatlah Buku Inventaris

Buku stok barang hanya bisa digunakan untuk mencatat barang yang habis pakai. Untuk barang yang sifatnya lama tidak bisa dicatat pada buku persediaan. Oleh karena itu, buku inventaris barang diperlukan. Buku inventaris ini juga berfungsi untuk mencatat barang tetap yang berasal dari hibah, belanja dan sumbangan yang sifatnya lama.

6. Buatlah Laporan Laba Rugi

Dalam proses pembukuan, tujuan utama Anda sebagai pelaku usaha kecil adalah untuk mengetahui apakah perusahaan Anda rugi atau untung. Nah, untuk mendapatkan data tersebut, caranya adalah dengan membuat buku laba-rugi.

Dalam membuat buku laba rugi ini adalah beberapa siklus akuntansi yang harus Anda lewati terlebih dahulu. Untuk lebih detail nya, Anda bisa melihat artikel cara membuat laporan laba rugi.

Contoh Pembukuan Sederhana

Setelah memahami langkah-langkah dan poin penting dalam pembukuan. Kini saatnya Anda mempraktekkan pengetahuan Anda dengan mengidentifikasi contoh pembukuan sederhana di bawah ini. Contoh yang dipaparkan tentu disesuaikan dengan enam tahapan di atas, adapun detailnya adalah sebagai berikut:

1. Contoh Buku Arus Kas Masuk

Dalam ilustrasi di atas terlihat bahwa dalam mencatat arus kas masuk ini perlu diperhatikan apakah kas tersebut dibayar secara kas atau dibayar secara piutang. Jika dibayar kas, maka dimasukan dalam akun kas. Sedangkan jika dibayar piutang, maka harus dicatat dalam akun piutang.

2. Contoh Buku Kas Pengeluaran

Untuk mempermudah Anda berikut adalah contoh dari buku pengeluaran:

3. Contoh Pembukuan Kas Umum

Selanjutnya, kumpulan keduanya dalam buku catatan keluar masuknya kas.

4. Contoh Pembukuan Stok Barang

Adapun contoh dari buku stok barang adalah sebagai berikut:

5. Contoh Pembukuan Inventaris

Berikut ini adalah contoh dari buku Inventaris:

6. Contoh Laporan Laba Rugi

Contoh dan format laporan laba rugi:

Demikianlah ulasan mengenai contoh pembukuan disertai dengan panduan membuatnya. Anda dapat menggunakan model lain sesuai dengan teknik pencatatan yang Anda gunakan. Namun, contoh di atas adalah yang paling umum digunakan dan lebih mudah.

6 Cara Mudah Membuat Laporan Keuangan Plus Contohnya

Pengusaha tidak bisa sekehendaknya sendiri dalam menyusun laporan keuangan, Anda harus mengikuti standar yang sesuai dengan PAK. Masalahnya, banyak pemula yang kesulitan membaca ketentuan di dalam PAK, oleh karenanya berikut untuk membantu Anda berikut ini adalah cara membuat laporan keuangan yang mudah dan cepat, dan tetap sesuai standar.

Laporan keuangan merupakan salah satu tolok ukur untuk menilai baik buruknya kinerja perusahaan, menilai apakah perusahaan bisa bertahan atau tidak dalam jangka panjang. Artinya, jantung dari perusahaan adalah laporan keuangan.

Jenis-Jenis Laporang Keuangan

Sebelum membahas laporan keuangan, penting kiranya untuk memahami apa saja jenis laporan keuangan dalam akuntansi. Adapun jenisnya adalah sebagai berikut:

1. Laporan Laba Rugi

Laporan yang mendeskripsikan keseluruhan penghasilan Anda dikurangi dengan segala beban yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan tersebut. Adapun contoh laporan laba rugi adalah sebagai berikut:

2. Laporan Perubahan Modal

Laporan yang mencerminkan perubahan ekuitas yang Anda miliki pada entitas dan periode waktu tertentu. Adapun contoh dari laporan perubahan modal adalah sebagai berikut:

3. Neraca

Laporan keuangan yang umumnya dibuat dalam waktu satu tahun yang mencerminkan posisi keuangan antara aktiva, kewajiban dan modal dalam perusahaan. Adapun contoh neraca keuangan adalah seperti di bawah ini:

4. Arus Kas

Jenis terakhir dari laporan keuangan adalah arus kas yakni laporan yang mencerminkan keseluruhan arus kas keluar dan masuk pada perusahaan dalam kurun waktu tertentu.

Jenis laporan keuangan di atas adalah komponen-komponen yang saling terkait dan menjadi satu kesatuan dalam laporan keuangan perusahaan. Lalu bagaimana cara membuat laporan keuangan perusahaan jasa maupun dagang yang mencangkup komponen di atas? Bagaimana tahapannya?

Tenang! Bagi Anda yang sedang mencari informasi tahapan membuat laporan keuangan berikut ini adalah detailnya.

Tahapan membuat laporan keuangan

Langkah berikut ini harus Anda lakukan secara bertahap, sebab tidak mungkin laporan keuangan bisa dibuat tanpa mengikuti prosedur akuntansi yang benar. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

1. Kumpulkanlah Detail Transaksi Anda dan Catatlah Pada Jurnal

Tentu bagi sebuah perusahaan transaksi pasti terjadi, baik berupa transaksi pembelian bahan pokok produksi hingga transaksi penjualan produk perusahaan. Kumpulan setiap bukti transaksi yang dilakukan oleh perusahaan Anda, kemudian catatlah dalam buku Jurnal Umum akuntansi. Dalam mencatat transaksi ini perhatikan detail tanggal dan jenis akun dalam jurnal akuntansi. Untuk lebih mudahnya lihat contoh jurnal transaksi berikut ini:

2. Melakukan Posting Pada Buku Besar

Langkah selanjutnya dalam cara membuat laporan keuangan perusahaan dagang maupun jasa adalah memindahkan akun dalam jurnal umum ke dalam buku besar. Buku besar ini berfungsi untuk melakukan pengelompokan sekaligus klasifikasi akun yang nantinya akan Anda masukan dalam laporan keuangan. Adapun contoh dari buku besar adalah seperti berikut ini:

3. Membuat Neraca Saldo

Setelah berhasil melakukan posting buku besar, maka langkah selanjutnya adalah membuat neraca saldo. Lalu bagaimana cara membuat neraca saldo ini? Langkahnya, sangatlah mudah yakni hasil pengelompokan akun dari buku besar kemudian diklasifikasikan menjadi dua kategori yakni aktiva dan pasiva. Neraca saldo ini fungsinya adalah untuk mengetahui dan membandingkan keseimbangan kredit dan debit keseluruhan transaksi dalam periode tertentu. Berikut ini adalah contoh dari neraca saldo:

4. Membuat Jurnal Penyesuaian

Jurnal penyesuaian ini tidak selalu diperlukan dalam proses membuat laporan keuangan. Namun, terkadang dalam transaksi tetap diperlukan adanya jurnal penyesuaian ini, apalagi bila transaksi perusahaan Anda memiliki banyak akun yang sifatnya kompleks. Fungsi dari jurnal penyesuaian adalah untuk mencari dan melakukan perbaikan pada transaksi yang belum tercatat atau salah mengkategorikan akun. Cara membuat jurnal penyesuaian ini adalah dengan mengecek ulang jurnal umum Anda dan membandingkannya dengan bukti transaksi yang ada.

5. Membuat Neraca Lajur

Sebenarnya ketika Anda membuat neraca saldo, secara otomatis neraca lajur ini telah terbuat. Namun, bila kemudian Anda harus melakukan penyesuaian, maka Anda harus membuat jurnal penyesuaian terlebih dahulu. Setelah selesai barulah lakukan pembuatan neraca lajur ini.

6. Membuat Laporan Keuangan Lengkap

Setelah tahap 1 sampai 5 telah Anda lakukan, maka langkah selanjutnya adalah menyusun laporan keuangan. Anda bisa membuat laporan keuangan dengan excel atau dengan cara manual. Hal yang perlu diperhatikan pada langkah ini adalah format dari setiap jenis laporan keuangan Anda, setiap jenis laporan keuangan baik laba rugi, perubahan modal, neraca dan seterusnya memiliki format baku sesuai standar PAK.

Demikianlah ulasan mengenai cara membuat laporan keuangan yang lengkap, mudah, sesuai prosedur dan disertai contoh lengkap di dalamnya.

Redenominasi Rupiah 2020 Pasca Pandemi, Efektifkah?

Tepat pada tanggal 7 bulan 7 ini, topik redenominasi rupiah 2020 kembali mencuat ke publik setelah tahun lalu gagal mencapai titik temu. Pertanyaannya, sudah tepatkah kebijakan ini diberlakukan dalam kondisi ekonomi yang melemah saat ini? Apa urgensinya bagi perkembangan ekonomi di Indonesia?

Redenominasi Rupiah Tanpa Kajian di Tahun 1965

Secara historis redenominasi mata uang rupiah pernah dilakukan pada tahun 1965 lalu. Tujuannya tidak lain adalah kebijakan moneter yang bertujuan mempersatukan bangsa. Kebijakan ini dulu dilakukan tiba-tiba dan tanpa kajian. Artinya, selain kesatuan bangsa tidak ada alasan lain yang berkaitan dengan kepentingan ekonomi bangsa.

Kesatuan dan persatuan bangsa memang segalanya, namun untuk permasalahan ini terutama di era globalisasi, membuat kebijakan tanpa kajian merupakan hal yang tabu. Oleh karenanya, perlu dipertanyakan apa saja urgensi dari kebijakan redenominasi rupiah di tahun 2020 ini. Terlebih lagi baru saja ekonomi Indonesia mengalami kemacetan disebabkan Pandemi Covid-19.

Alasan Logis Redenominasi Rupiah 2020

Setidaknya sebagaimana pernah disinggung oleh Solo Dony Ananta (2/03/2013) di bisnis.tempo.co bahwa ada 2 alasan logis pemberlakukan redenominasi uang rupiah yaitu:

  • Pencitraan, nilai rupiah terlihat sangat besar nominalnya, ini membuat nilai rupiah dianggap sangat rendah bila dibandingkan dengan mata uang negara lainnya.
  • Adanya kebiasaan masyarakat yang menghilangkan angka tiga digit ketika melakukan transaksi, misal menyebut Rp 10.000 dengan Rp 10 saja.

Selain itu, berkaitan kebijakan redenominasi uang rupiah 2020 ini sebagaimana dijelaskan dalam PMK No. 1 2020, alasan diajukannya RUU Redenominasi mata uang adalah sebagai berikut:

  • Menimbulkan efisiensi perekonomian berupa percepatan waktu transaksi, berkurangnya resiko human error, dan efisiensi pencantuman harga barang/jasa karena sederhananya jumlah digit Rupiah.
  • Menyederhanakan sistem transaksi, akuntansi dan pelaporan APBN karena tidak banyaknya jumlah digit Rupiah.

Syarat Redenominasi Mata Uang Rupiah

Jika mengaca pada beberapa negara yang pernah melakukan redenominasi, ternyata ada negara yang pernah gagal menerapkan hal ini yakni Argentina, Brasil dan Rusia. Penyebabnya tidak lain adalah karena salah momen, yakni saat perekonomian negara sedang memburuk.

Artinya syarat utama untuk melakukan redenominasi adalah kondisi ekonomi harus stabil dan juga kondusif, ini juga perlu didukung oleh kondisi sosial politik yang stabil juga. Secara lebih detail sebagaimana dilansir dalam Tirto.id (8/7/2019) Bhima Yudhistira Adinegara Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), menyatakan bahwa ada tiga syarat untuk melakukan redenominasi rupiah yaitu kondisi ekonomi stabil, fundamental ekonomi kondisinya harus baik, dan inflasi harus terkendali.

Nah, bagaimana dengan Indonesia saat ini, siapkah melakukan redenominasi rupiah 2020 ini? Apakah kondisi perekonomian telah membaik?

Plus-Minus Redenominasi Rupiah

Tentu sebuah kebijakan memiliki tujuan dan maksud, untuk redenominasi kali ini tujuannya telah disinggung dalam PMK No.1 2020 sebagaimana dijelaskan di atas. Namun, tidak selamanya redenominasi ini mengandung manfaat, redenominasi ternyata juga memiliki dampak negatif terhadap perekonomian. Lalu apa saja sisi positif dan negatif dari redenominasi ini?

Adapun manfaat Redenominasi setidaknya terbagi atas empat macam sebagai berikut:

  • Penyederhanaan perhitungan memudahkan proses laporan keuangan, bagi perbankan dengan dihilangkannya 3 digit angka nol ternyata mampu menghemat biaya teknologi perbankan.
  • Upaya meningkatkan kepercayaan atau citra dari mata uang rupiah oleh pengguna asing.
  • Penyederhanaan nilai juga dianggap mampu meningkatkan kredibilitas di mata negara lain.
  • Mengurangi inflasi

Selain beberapa manfaat di atas, ternyata redenominasi juga menimbulkan efek negatif, bentuknya adalah berupa laju inflasi akan semakin melambung tinggi. Ini disebabkan jika ternyata pemerintah tidak mampu menyediakan satuan mata uang terkecil. Nah, untuk nilai 1 rupiah satuan terkecil mata uang berupa sen setidaknya harus ada dan beredar di masyarakat dengan baik.

Redenominasi Dalam Proses Kajian BI

Untuk proses redenominasi sendiri sebagaimana pernyataan BI yang dimuat dalam cnbc indonesia (6/07/2020) saat ini masih dalam proses kajian dengan beberapa lembaga yang terkait, BI juga menyatakan bahwa redenominasi tidak dilakukan dalam waktu dekat ini, sebab membutuhkan waktu yang panjang dan juga memerlukan komitmen nasional. Proses redenominasi rupiah 2020 ini pun juga masih menunggu arahan pemerintah selanjutnya.

Mengenal Teori ABC Sebagai Manajemen Biaya Perusahaan

Ada kalanya perusahaan perlu untuk melakukan klasifikasi pelanggan sebagai langkah strategis mereka dalam upaya mempertahankan eksistensi perusahaan sendiri. Jangan sampai karena mempertahankan pelanggan, perusahaan justru menjadi rugi.

Berkaitan dengan langkah klasifikasi tersebut, dalam teori manajemen biaya terdapat dua model pendekatan yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam rangka mengambil keputusan yang bersifat strategis tersebut yakni menggunakan pendekatan ABC untuk menganalisis pelanggan yang benar-benar memberikan keuntungan.

Ilustrasi Manajemen Biaya Model ABC

Sebagai ilustrasi dari model analisis ABC terhadap profitabilitas pelanggan simak contoh berikut ini:

Madison Dairy adalah sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai kebutuhan hasil olahan susu (yogurt, krim asam, susu, dan ice krim) yang diperuntukan bagi pasar grosir, distributor dan pengecer. Saat ini pendapat perusahaan tersebut sebesar $ 3.000.000, biaya yang dikeluarkan untuk MSDA (pemasaran, penjualan, distribusi dan administrasi) adalah sekitar $ 900.000 atau sekitar 30% dari pendapatan yang diperoleh. Perusahaan Madison Dairy ini memiliki dua pelanggan utama  yakni Carver dan Delta, kedua pelanggan tersebut menghasilkan margin yang hampir sama bagi perusahaan. Sebelum memperoleh keuntungan dari pelanggan tersebut Madison Diary telah menghabiskan biaya MSDA (pemasaran, penjualan, distribusi dan administrasi) dalam proses penjualannya, perusahaan dalam rangka menghitung profit penjualan mengalokasikan biaya MSDA tersebut dengan keuntungan yang diperoleh dari masing-masing pelanggan. 

Contoh Perhitungan Manajemen Biaya Model ABC

Untuk lebih jelasnya lihat ilustrasi berikut:

Berdasarkan data di atas kemudian Madison Dairy berusaha menerapkan manajemen biaya ABC terhadap dua pelanggan tersebut. Pertama, perusahaan melakukan kontrol terhadap MSDA (pemasaran, penjualan, distribusi dan administrasi) dengan mengidentifikasi karakteristik dari dua pelanggan tersebut, sebagai berikut:

Data about Customers
Carver
  • Carver cenderung memesan beberapa jenis produk dengan kuantitas yang cukup banyak;
  •  Carver memposisikan order predictability dengan model jangka panjang ;
  • Carver hanya membebani sedikit anggaran penjualan dan technical support. 
Delta
  • Membutuhkan support yang cukup banyak hand-holding (perhatian khusus, dukungan, atau instruksi (seperti dalam melayani klien);
  • Terus meminta apakah Madison dapat memodifikasi produk untuk memenuhi kebutuhan spesifiknya;
  • Banyak sumber daya teknis, selain sumber daya pemasaran, diperlukan untuk melayani Delta;
  • Cenderung melakukan banyak pesanan kecil untuk produk khusus;Required expedited delivery ; 
  • Cenderung telat membayar ;
  • Meningkatkan tuntutan pada proses pemesanan, pembuatan faktur, dan piutang Madison.

Berdasarkan karakteristik kemudian tim perusahaan melakukan pengembangan biaya kapasitas untuk mengalokasikan biaya MSDA.  Berdasarkan itu, kemudian tim memperkirakan tuntutan waktu pada berbagai sumber daya untuk mendapatkan dan memproses pesanan pelanggan, untuk mendistribusikan pesanan kepada pelanggan, dan untuk melayani setiap pelanggan.  Hal tersebut, memungkinkan perusahaan untuk menetapkan $ 900.000 dalam biaya MSDA untuk setiap pelanggan. Hasilnya adalah bahwa gambaran profitabilitas relatif dari Carver dan Delta bergeser secara dramatis, seperti yang ditunjukkan di bawah ini:

Ilustrasi Hasil Perhitungan Model ABC

Berdasarkan pendekatan ABC tersebut kemudian diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Perusahaan Carver jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan laporan sebelumnya, yang telah mengalokasikan biaya MSDA sebagai persentase tetap dari pendapatan.
  2. Kegiatan pemesanan dan dukungan Carver membebani sedikit sumber daya MSDA perusahaan, sehingga hampir semua margin kotor yang diperoleh dari produk yang dijual turun ke garis bawah margin operasi.
  3. Perusahaan Delta sekarang dipandang sebagai pelanggan Madison Dairy yang paling tidak menguntungkan.
  4. Sementara Madison merasakan bahwa Carver adalah klien yang lebih potensial daripada Delta, dan tidak ada yang tahu berapa besar perbedaan di antara keduanya.

Dari hasil pendekatan ABC tersebut dapat diketahui bahwa meskipun pelanggan harus dilayani sebaik mungkin ternyata tidak semua pelanggan harus tetap dipertahankan bila memang atas usaha pelayanan tersebut diperlukan biaya besar yang justru merugikan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu untuk melakukan seleksi dalam rangka memberikan pelayanan kepada pelanggan.

5 Langkah Sederhana Memulai Usaha Kecil-Kecilan

Bisnis kecil-kecilan yang bermutu pasti dimulai dari ide yang berkualitas. Tentu, bagi Anda yang ingin memulai bisnis dapat dipastikan telah memilih ide besar itu. Namun, dalam memulai usaha kecil-kecilan tentu ide tersebut harus Anda realisasikan menjadi tindakan nyata. Di sinilah kemudian banyak pebisnis pemula yang merasa kewalahan, hal ini terjadi sebab langkah-langkah yang dilakukan tidak direncanakan dengan baik.

Sebagaimana tujuan besar lainnya, memulai dan merintis bisnis kecil maupun besar memang membutuhkan upaya yang besar pula. Namun, target yang besar tersebut akan terasa lebih mudah bila Anda melakukan perencanaan dengan memecahnya ke dalam langkah-langkah kecil yang terstruktur. Untuk memandu dalam merealisasikan ide besar Anda, berikut ini 5 langkah sederhana dalam memulai usah kecil.

Buatlah Rencana Bisnis Sederhana Saja

Kunci dari bisnis kecil yang sukses adalah kemampuan mereka dalam meramu sesuatu yang besar menjadi sederhana dan kemampuan mereka menekan biaya. Biaya dalam hal ini tidak hanya berupa uang melainkan juga waktu.

Banyak pebisnis pemula yang menghabiskan waktu mereka dalam menyusun bisnis plan secara detail hingga berjilid-jilid. Bagi yang masih baru merintis dan memulai usaha kecil, hal itu tidak diperlukan. Sebab rencana bisnis yang detail, baru akan dibutuhkan saat Anda memerlukan investor. Untuk itu bagi Anda yang baru akan memulai bisnis kecil-kecilan buatlah rencana bisnis dengan cukup satu atau dua halaman saja. Dengan begitu waktu dan pikiran Anda tidak terkuras karena hal ini.

Apakah berkualitas jika hanya satu halaman saja? Tentu saja, sebab bisnis plan ringkas ini merupakan formulasi khusus bagi mereka yang baru memulai usahanya. Untuk itu, berikut ini akan diberikan panduan bagi Anda dalam menyusun bisnis plan yang simpel tapi berkualitas.

  • Jelaskan visi dari bisnis Anda. Apa tujuan akhir dari bisnis yang Anda pilih?
  • Jelaskan misi Anda. Dalam penjelasan mengenai misi ini, Anda harus menjawab pertanyaan mengapa perusahaan ini Ada?
  • Tentukan sasaran Anda. Dalam hal ini Anda harus mendefinisikan tujuan dari bisnis Anda sesuai, tujuan ini harus sinkron dengan visi dan misi yang telah Anda tetapkan.
  • Buatlah garis besar strategi yang Anda gunakan. Buatlah secara sederhana dengan kalimat yang singkat saja, buatlah list strategi.
  • Tentukan rencana aksi dari bisnis Anda. Buatlah list tindakan-tindakan apa saja yang akan Anda lakukan.

Ketika benar-benar mempraktikkan hal ini, mungkin hasilnya penjabaran Anda akan lebih dari 1 halaman. Namun, dengan mengikuti panduan ini Anda sudah melakukan penyederhanaan dari bentuk bisnis plan pada umumnya. Lima pertanyaan di atas umumnya dibuat hingga berlembar-lembar dalam bisnis plan. Untuk lebih jelasnya Anda bisa melihat Membuat Business Plan Sederhana, Tanpa Ribet, dan Tetap Efektif?

Buatlah Rencana Anggaran

Melakukan perencanaan anggaran dalam merintis usaha modal kecil menjadi aspek yang paling sentral. Sebab ini akan sangat menentukan berlanjut atau tidaknya bisnis Anda.

Mulailah dengan mengidentifikasi sumber dana terlebih dahulu. Bila sumber dana berasal dari keuangan pribadi Anda, maka buatlah budgeting yang realistis dari penghasilan Anda dan buatlah rencana cadangan bila sewaktu-waktu dana itu habis. Misalnya, setelah melakukan kalkulasi pengeluaran harian, Anda akhirnya bisa menyisihkan 20% dari penghasilan. Nah! Jika  tiba waktunya Anda merealisasikan rencana tersebut maka jangan sampai pendanaan yang Anda keluarkan lebih dari perencanaan.

Langkah di atas sangatlah penting untuk Anda lakukan, sebab ini akan menentukan berapa lama jangka waktu usaha kecil-kecilan akan mampu bertahan ketika bisnis yang dijalankan belum memperoleh keuntungan.

Misalnya, setelah melakukan kalkulasi modal akhirnya ditemukan bahwa tanpa keuntungan sedikitpun Anda bisa mendanai bisnis modal kecil Anda dalam jangka waktu 6 bulan. Untuk lebih aman buatlah kemampuan modal Anda menjadi hanya 4 bulan, sedangkan sisanya bisa Anda gunakan sebagai dana cadangan.

Dengan demikian, Anda mempunyai target bahwa usaha kecil menguntungkan ini dalam jangka waktu 4 bulan saja dan bukan 6 bulan.

Pilih Bentuk Badan Usaha dari Bisnis Anda

Menentukan pilihan jenis badan usaha dari bisnis Anda merupakan hal yang cukup penting, hal ini sangat berkaitan dengan lisensi dan perlindungan hukum dari usaha kecil-kecilan rintisan Anda. Sebab bila tanpa badan usaha umumnya ide-ide menarik dari bisnis Anda bisa dengan mudah di curi orang lain.

Melegalkan bisnis memang membutuhkan biaya, terkadang biaya yang dikenakan juga cukup besar. Oleh karena itu, pemilihan badan usaha ini juga harus memperhatikan anggaran yang Anda miliki.

Bagi Anda yang baru memulai dan merintis usaha dengan modal kecil sebaiknya Anda memiliki jenis usaha perseorangan saja seperti UD. Namun, perlu Anda perhatikan juga bahwa segala resiko bisnis seluruhnya menjadi tanggungan pribadi Anda. Bila Anda bekerjasama dengan orang lain, maka jenis badan usaha yang cocok adalah usaha persekutuan, kelebihannya adalah resiko bisnis akan ditanggung bersama-sama sesuai ketentuan yang berlaku.

Hemat Pengeluaran Usaha Kecil-kecilan Anda

Di tahap sebelumnya Anda telah melakukan proses budgeting, tahap ini sebenarnya berkaitan dengan aksi dari budgeting tersebut. Misalnya, dalam perencanaan Anda telah mengangarkan pengeluaran untuk membeli alat dengan perkiraan harga 2 juta. Ternyata, dalam proses pelaksanaan Anda bisa mendapatkan alat dengan harga 1,8 juta dengan kualitas yang sama, maka usahakan untuk memperoleh alat tersebut. Langkah ini bisa menghemat pengeluaran, sehingga Anda bisa mengalokasikan sisanya untuk keperluan lain atau memasukkannya sebagai dana cadangan.

Dalam kaitan ini Anda juga harus memiliki catatan laporan keuangan. Hal ini berguna untuk memisahkan pengeluaran pribadi dengan pengeluaran usaha kecil menengah Anda. Sebagai ilustrasi, ketika Anda mencari alat tersebut di atas, tentu membutuhkan anggaran lain berupa transport dan uang makan. Maka dalam kaitan ini Anda harus membedakan apakah biaya tersebut dibebankan kepada anggaran usaha kecil-kecilan Anda atau dibebankan kepada pengeluaran pribadi.

Uji Penjualan Usaha Kecil-Kecilan Anda

Kini Anda telah cukup memiliki pondasi yang kuat dalam memulai usaha modal kecil sendiri. Maka langkah selanjutnya adalah dengan mencoba melakukan pemasaran terhadap produk Anda. Mulailah dengan memasarkan ke orang-orang terdekat Anda, kemudian ke tetangga dan masyarakat di lingkungan Anda.

Bila merasa telah melakukan pemasaran secara maksimal, maka teknik selanjutnya adalah mencoba memasarkan bisnis kecil secara online. Dewasa ini sudah banyak bisnis kecil online yang bertebaran di media massa karenanya Anda tidak boleh ketinggalan juga. Mulailah dengan memasarkan melalui aplikasi-aplikasi yang Anda kenali misalnya WhatsApp, Facebook.

Kemudian, bila bisnis Anda telah berkembang mulailah dengan merambah ke dunia website, internet marketing, email marketing. Bila belum paham dengan hal-hal ini Anda bisa menyewa jasa-jasa tersebut secara online.

Fungsi dari internet marketing ini selain untuk mendapatkan konsumen adalah juga untuk melakukan branding terhadap produk sekaligus bisnis Anda agar dikenal masyarakat luas. Semakin banyak yang mengenal tentu juga akan semakin banyak yang merekomendasikan.

Kini Anda dapat mengikuti 5 langkah memulai usaha sendiri ini tanpa banyak mengeluarkan uang dan waktu. Ini adalah cara yang fantastis untuk menguji kelayakan usaha kecil-kecilan Anda sebelum membuang semua waktu dan uang Anda ke ide lain yang belum terbukti.