Arsip Tag: pusat kopi

Sejarah Kopi: Dari Mocha, Cappucino sampai Kopi Ijo

Sebagai wong Tulungagung, yang konon dikenal dengan Kopi Cethe (tradisi menghias rokok dengan endapan kopi), Setelah membaca fakta bahwa kopi ternyata merupakan produk dan komoditas global terbesar kedua di dunia dan hanya minyak yang mengalahkannya “rasa bangga” ini rasanya usang.

Didukung dengan fakta kalau Saya termasuk kategori yang tidak buka warung kopi, satu kata yang pas untuk mengekspresikannya “asem telat lek”.

Saking larisnya, lebih dari 15 juta cup kopi diminum oleh orang di seluruh dunia dalam. Artinya, bila di rumah Anda tidak ada “rodong isi kopi”, berarti Anda adalah minoritas.

Sebagai pelipur, akhirnya Saya tertarik menengok sedikit sejarah kopi ini, dari mana ia bermula dan bagaimana ia sampai mendunia.

Awal Sejarah Kopi

Mengutip dari Chapter 2 Buku “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization”. Dikabarkan, kalau kopi ini telah dikenal lebih dari 1.200 tahun yang lalu. Konon, sebagaimana dikutip dalam artikel “On the Coffe Trail”, para pengembala kambinglah yang menemukannya. Mereka penasaran dengan gembalanya yang lebih seperti tersuplai energi setelah memakan buah seperti beri. Para penggembala kemudian merebusnya dan menjadikannya minuman yang oleh orang Arab disebut dengan “al-qahwa”. Simak kisah lengkapnya di The Origin of Coffee: Kaldi and the Dancing Goats.

Oleh karenanya, tak salah jika dikatakan “Kopi membuat kita mampu merenung, serius dan filosofis” demikianlah kutipan dari Jonathan Swift, Irish Writer.

Di zaman peradaban Islam, kopi disebarkan ke seluruh dunia Muslim oleh para pelancong, peziarah, dan pedagang, mencapai Mekah dan Turki pada akhir abad ke-15 dan Kairo pada abad ke-16.

Kopi di Eropa

Pada abad ke-15, kopi dibudidayakan di Afrika Timur dan diperdagangkan di seluruh semenanjung Arab. Awalnya, minuman baru itu dianggap sebagai alat bantu konsentrasi dan digunakan oleh para sufi di Yaman untuk mencegah mereka tertidur selama menjalankan ibadah. (Teh juga dimulai sebagai penolong kecil bagi biksu Buddha yang berjuang untuk tetap terjaga melalui meditasi yang panjang.) Dalam satu abad, kedai kopi bermunculan di kota-kota di seluruh dunia Arab. Pada tahun 1570 ada lebih dari 600 dari mereka di Konstantinopel saja, dan mereka menyebar ke utara dan barat dengan kekaisaran Ottoman.

Sebelum abad ke-16 pertengahan, model penyajian kopi di wilayah Eropa sebagian besar menirukan gaya penyajian kopi Muslim yakni campuran bubuk kopi, gula, dan air mendidih bersama-sama, yang meninggalkan residu kopi di cangkir karena tidak disaring.

Barulah kemudian, pada akhir abad 16 atau tepatnya 1683 M, ditemukan cara baru penyajian kopi dan menjadi cara tervaforit kala itu. Sekarang kita mengenalnya dengan sebutan “Cappucino”.

Kopi cappuccino terinspirasi oleh Marco d’Aviano, seorang pendeta dari ordo biara Capuchin, yang berperang melawan orang-orang Turki yang mengepung Wina pada tahun 1683. Setelah mundurnya orang-orang Turki, orang-orang Wina membuat kopi dari karung-karung kopi Turki yang ditinggalkan. Merasa terlalu kuat untuk rasanya, mereka mencampurnya dengan krim dan madu. Hal ini membuat warna kopi menjadi coklat, menyerupai warna jubah kapusin. Jadi, orang Wina menamakannya cappuccino untuk menghormati pesanan Marco D’Aviano. Sejak itu, cappuccino menjadi populer karena rasanya yang enak dan lembut…

Bermula dari seorang pedagang Ottoman bernama Pasqua Rosee [Paşa Rıza] yang pertama kali membawa kopi ke Inggris pada tahun 1650, menjualnya di sebuah kedai kopi di George-yard, Lombard Street, London.

Delapan tahun kemudian, kedai kopi lain bernama Sultaness Head dibuka di Cornhill. Lloyd’s of London, saat ini menjadi perusahaan asuransi terkenal, pada awalnya adalah kedai kopi bernama Edward Lloyd’s Coffee House. Pada 1700, ada sekitar 500 kedai kopi di London, dan hampir 3.000 di seluruh Inggris. Dari sini kita bisa meyakini kalau orang Arab lah yang mempopulerkan Kopi di seluruh dunia melalui wilayah Mocha.

Kopi di Indonesia

Khusus di Indonesia, ternyata orang Belanda-lah yang mempopulerkannya, tepatnya ada 1966 lalu. Jenis kopi “Arabika” yang ditanam di tanah Jawa waktu itu menuai sukses besar. Namun, sayang nya pada tahun 1878, serangan penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV) memporak-porandakan nya. Kemudian, Belanda menggantinya dengan jenis kopi lain, spesies kopi liberika (Coffea liberica). Anda bisa menyimak kisah lengkapnya di Sejarah Kopi. Belanda kala itu, menjadi pemasok kopi dunia. Pasca kemerdekaan, tentunya kebun kopi milik Belanda seluruhnya telah dinasionalisasi.

Setelah melihat sedikit ulasan sejarah Kopi di tas, ada satu fakta menarik yakni “Model Penyajian Kopi”. Melihat fakta bahwa Cappucino tetap menjadi favorit hingga saat ini, timbul dalam benak saya, bagaimana dengan inovasi yang dilakukan di Indonesia?

Kalau merujuk pada kota kelahiran Saya, ada banyak ragam penyajian kopi yang menurut pengakuan lidah Saya, rasanya lebih enak dari Cappucino. Sebut saja, Kopi Ijo, Kopi Cethe dengan sensasi hias rokoknya. Belum lagi jenis “Kopi Arang”, yang pernah beberapa waktu lalu pernah saya coba di wilayah Jogja.

Dengan beberapa keragaman kopi ini sebenarnya menurut prediksi Saya yakin kalau ada potensi besar pada kopi ini. Tinggal bagaimana kita bisa membuatnya mendunia. Bahkan beberapa waktu lalu, di Wilayah Jember, Saya sempat dibuat takjub dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka).