Arsip Tag: syariah

Bank Syariah Indonesia: Estimasi Perkembangan dan Pertumbuhan

Tiga bank tingkat regional Indonesia telah dikonversi menjadi bank syariah pada 2022, meningkatkan dominasi pasar bank syariah. Lalu bagaimana perkembangannya?

Menurut perkiraan fitchratings.com (30 Apr, 2021) konversi tersebut dapat meningkatkan pendanaan syariah menjadi sekitar 9% dari industri perbankan pada akhir-9M21, dari 7% sekarang. Kami memperkirakan pertumbuhan organik di PT Bank Syariah Indonesia Tbk (AA(idn)/Stabil), bank syariah terbesar di Indonesia dan keenam terbesar secara keseluruhan. 

Masalah Jangka Panjang

Beberapa Masalah Jangka Panjang Tetap Ada: Meskipun populasi Muslim Indonesia sangat besar, hanya ada sedikit kesadaran, pemahaman, atau permintaan akan barang-barang Islami. 

Penawaran produk yang terbatas, jaringan cabang dan perbankan digital yang masih berkembang, serta tenaga kerja yang kompeten menjadi kendala utama. 

Rasio Cadangan Bank Syariah Indonesia

Keistimewaan Rasio Cadangan: Persyaratan rasio cadangan rupiah (RRR) yang lebih rendah untuk bank syariah pada tahun 2022 menunjukkan dukungan berkelanjutan dari otoritas lokal untuk sektor ini. 

RRR untuk bank syariah akan naik dari 3,5 persen menjadi 5,0 persen pada September, dibandingkan dengan 6,5 persen untuk bank konvensional.  Dalam hal ini, fitchratings.com (30 Apr, 2021)  yakin selisih 150bp akan membantu keuntungan bank syariah dalam jangka pendek. Pada akhir-9M21, pengembalian aset bank syariah adalah 1,6%, sebanding dengan bank konvensional.

Alasan Merger Bank Syariah Indonesia

Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim tertinggi di dunia; sekitar 87 persen dari populasi adalah Muslim, yang menambahkan hingga hampir 210 juta orang. Dan warga negara, khususnya kaum muda, bangga dan aktif sebagai Muslim. Banyak sekali yang tinggal di desa halal, dan di seluruh Indonesia, kosmetik halal, makanan halal, dan wisata halal sangat populer.

Namun penetrasi produk perbankan syariah di Indonesia saat ini sangat rendah: sekitar 7 persen. Itu luar biasa jika kita membandingkan Indonesia dengan negara lain. Ambil contoh Malaysia, di mana pangsa perbankan syariah sekitar 30 persen, atau Brunei, di mana lebih dari 50 persen. Perbankan syariah, tentu saja, juga sangat populer di GCC [Negara Kerjasama Teluk: Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab]. Maka, khususnya saat ini, peluang bisnis produk perbankan syariah di Indonesia sangat terbuka lebar. Itu semua lebih alasan kami ingin bergerak cepat.

Relevansi Merger Bank Syariah Indonesia

Mergernya bank syariah regional menjadi Bank Syariah Indonesia, dinilai merupakan upaya yang baik. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, adapun diantaranya adalah:

Momentum yang tepat

Penggabungan tiga Bank Umum Syariah (BUS) menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI) terjadi pada waktu yang tepat, sehingga industri perbankan syariah di tanah air dapat mempercepat perkembangannya. Tujuan dari upaya konsolidasi ini adalah untuk meningkatkan perekonomian seluruh rakyat tanah air.

Dapat membuka akses UMKM atau masyarakat lebih luas

Kehadiran BSI juga diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas terhadap sumber daya keuangan untuk pengembangan unit usaha syariah yang dimiliki oleh masyarakat. Apalagi, hal ini diperkuat dengan komitmen BSI untuk berpihak pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang diharapkan dapat membantu mitigasi dampak pandemi dan resesi yang dirasakan masyarakat saat ini.

Aset semakin besar

Saat ini, bank syariah dengan aset terbesar ke-10 di dunia menurut The Asian Banker, adalah Bank Rakyat Malaysia. Bank yang memiliki total aset hingga RM 109,62 miliar atau setara Rp 381,44 triliun) per Desember 2019. Artinya, untuk menembus 10 besar perlu sinergi dengan seluruh komponen ummat agar total aset BSI bisa melebihi total aset Bank Rakyat Malaysia dan bank syariah global lainnya.

Meningkatkan manfaat sosial dan kesejahteraan

Inilah salah satu keunggulan perbankan syariah, dimana aspek sosial dan kesejahteraan sudah ada manfaatnya. Manfaat tersebut antara lain ditunjukkan dengan pelunasan kewajiban zakat perusahaan dan penyaluran pembiayaan qardhul hasan (pinjaman tanpa bunga). Upaya ini merupakan proposisi nilai yang secara signifikan membedakan bank syariah dengan bank konvensional. Hal ini merupakan bentuk integrasi antara aspek komersial dan aspek sosial dalam satu paket lembaga yang disebut bank syariah.