5 Jenis Opini Audit Plus Contoh Lengkapnya

  • 3 min read
  • Jul 31, 2020

Sebelumnya kita telah menyinggung format laporan audit standar yang di dalamnya membahas pula mengenai opini audit “wajar tanpa pengecualian”, pada bahasan kali ini kita akan mengulas mengenai opini audit yang tidak standar.

Pengertian Opini Audit

Opini audit adalah pendapat yang diberikan oleh akuntan publik atau auditor atas proses audit yang telah dilakukannya pada instansi tertentu. Dalam hal ini auditor akan melakukan penilaian atas laporan keuangan yang disajikan dan kemudian memberikan pendapatnya tentang kualitas dari perusahaan yang diaudit. Adapun contoh dari opini “wajar tanpa pengecualian” adalah sebagai berikut:

Opini Wajar Tanpa Pengecualian
Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Jenis Opini Audit dan Contohnya

Dalam standar profesional akuntan publik yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia laporan/opini audit yang menyimpang dari standar terdiri dari empat kategori, yaitu:

1. Opini Wajar dengan Bahasa Penjelasan

Opini ini sebenarnya masih merupakan pendapat yang berisi pendapat “wajar tanpa pengecualian” hanya saja ada kondisi tertentu yang mengharuskan auditor menambah kalimat penjelas dalam paragraf pendapat. Artinya, terdapat tambahan kalimat penjelas dari paragraf dalam laporan standar. Sesuai dengan standar profesional akuntan, keadaan-keadaan yang mengharuskan auditor menambah kalimat penjelas tersebut adalah:

  • Pendapat auditor yang sebagian pendapatnya didasarkan atas laporan auditor lainnya
  • Menghindari laporan keuangan yang menyesatkan, sebab adanya keadaan tertentu yang sifatnya luar biasa.
  • Laporan keuangan, ternyata memiliki format yang berbeda dari pedoman yang ada dalam prinsip akuntansi yang dikeluarkan oleh IAI
  • Keuangan yang dilaporkan ternyata dipenuhi oleh unsur ketidakpastian, misalnya peristiwa di masa yang akan datang dan tidak bisa diperkirakan hitungannya pada saat laporan audit dilaksanakan.
  • Adanya keraguan yang cukup besar berdasarkan fakta audit, jika perusahaan dalam melangsungkan usahanya di masa depan
  • Adanya perubahan material diantara dua periode, baik dalam penerapannya atau prinsip akuntansi yang digunakan.
  • Keadaan lain yang memiliki hubungan erat dengan audit atas laporan keuangan.
  • Tidak disajikannya data keuangan kuartal yang diwajibkan oleh BAPEPAM (Badan Pengawas Pasar Modal)

Untuk lebih memahaminya berikut adalah contohnya nya:

Opini Audit Wajar Dengan Penjelasan
Opini Audit Wajar Dengan Penjelasan

2. Pendapat wajar dengan pengecualian

Opini audit wajar dengan pengecualian diberikan oleh auditor apabila setelah melakukan pemeriksaan ditemukan beberapa kondisi berikut ini:

  • Tidak mencukupinya bukti yang sifatnya kompeten atau karena pihak manajemen perusahaan membatasi ruang lingkup kewenangan audit secara sengaja.
  • Ditemukan penyimpangan-penyimpangan dari standar yakni prinsip-prinsip akuntansi yang telah berlaku secara umum (standar akuntansi keuangan) di dalam laporan yang disusun pihak manajemen. Laporan ini memiliki dampaknya cukup materil terhadap tingkat kewajaran penyajian laporan keuangan yang disajikan.

Dalam menyatakan opini audit ini, Auditor harus secara tegas mencantumkan kalimat “dengan pengecualian” dalam laporannya. Selain itu auditor juga harus menguatkan pendapatnya dengan mencantumkan beberapa paragraf penjelas sebagai alasan mengapa pendapat itu dikeluarkan.

Opini Wajar Dengan Pengecualian
Opini Wajar Dengan Pengecualian

Di dalam standar profesional akuntan publik ditegaskan bahwa, untuk pendapat dengan pengecualian agar dihindarkan penggunaan frasa “tergantung pada” (subject to) karena frasa tersebut maknanya tidak jelas sehingga dapat di salah tafsirkan oleh pihak pemakai laporan.

Opini Wajar Dengan Pengecualian 2
Opini Wajar Dengan Pengecualian 2

3. Pendapat Tidak Wajar

Opini audit ini umumnya diberikan oleh auditor ketika menemukan bahwa laporan keuangan yang disajikan ternyata tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum atau standar akuntansi keuangan yang berlaku. Dalam memberikan pendapat ini, akuntan publik harus menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami mengenai alasan dasar dikeluarkannya pendapat tersebut. Selain itu, Auditor juga harus menjelaskan dampak dari pendapatnya terhadap laporan keuangan, hasil usaha perusahaan hingga arus kas yang ada. Jika auditor memberikan pendapat tidak wajar, paragraf pendapat harus berisi penunjukkan langsung ke paragraf terpisah yang menjelaskan dasar untuk pendapat tidak wajar tersebut.

Sebagai contoh misalnya, kesalahan dalam menyajikan nilai aktiva tetap perusahaan yang disajikan dalam neraca ternyata didasarkan pada penilaian kembali nilai aktiva. Seharusnya dalam menyajikan nilai aktiva tetap harus didasarkan pada harga perolehan. Penyusutan aktiva tetap dihitung berdasarkan nilai tersebut.

Pendapat Tidak Wajar
Pendapat Tidak Wajar

4. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat

Pernyataan tidak memberikan pendapat diberikan oleh auditor apabila, adanya pembatasan terhadap ruang lingkup audit, sehingga tidak dapat melaksanakan yang cukup untuk memungkinkan auditor memberikan pendapat atas laporan keuangan yang di audit nya. Jika pernyataan tidak memberikan pendapat disebabkan karena adanya pembatasan ruang lingkup audit, auditor harus menunjukkan dalam paragraf terpisah, alasan mengapa audit yang dilakukannya tidak berdasarkan standar auditing yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Tidak Menyatakan Pendapat
Tidak Menyatakan Pendapat

Dalam pendapat ini, Auditor harus menyatakan bahwa ruang lingkup audit yang telah dilakukannya, tidak cukup memadai untuk dijadikan dasar sebagai bukti untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Auditor juga harus menjelaskan beberapa keberatan lain yang berhubungan dengan tingkat kewajaran penyajian informasi dari laporan keuangan berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum.

Sebagai contoh misalnya ketika pelaksanaan audit, ternyata pihak manajemen perusahaan enggan untuk melaksanakan inventori taking. Bukti-bukti yang mendukung harga perolehan aktiva tetap sebelum tahun dilaksanakannya audit ternyata tidak bisa disajikan oleh perusahaan karena hilang dari arsip perusahaan. Dalam hal ini, Auditor tidak dapat menggunakan prosedur audit lainnya terhadap persediaan dan aktiva tetap.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: