Ternyata Saya tidak Gaptek? Evolusi Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19

  • 2 min read
  • Apr 29, 2020
social distancing

Respon Masyakat Terhadap Social Distancing

Di tengah pandemi Covid-19 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing sekaligus physical distancing. Sebagai konsekuensinya segala aktivitas utama masyarakat seperti bekerja di kantor beralih menjadi work from home, belajar di sekolah dan kampus berubah menjadi study at home.

Di bidang pembelajaran, perguruan tinggi di Indonesia akhirnya melakukan optimasi sistem e-learning mereka, sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai pada tingkat menengah juga menerapkan hal yang sama, berbagai platform pembelajaran digital seperti Ruangguru, Cakap, Ilmupedia dan lainnya turut bergembira menyambut himbauan pemerintah tersebut. Media pembelajaran online seperti zoom, Google classroom, Google meet dibanjiri oleh pendidik dan peserta didik. Termasuk juga media sosial seperti WhatApps, Facebook, Telegram dijadikan sarana pembelajaran online. Berbagai provider kuota-kuota internet melakukan kebijakan gratis kuota dan diskon di sana sini.

Demikian halnya dengan kegiatan work from home, aplikasi seperti Google Drive, Trello dan sejenisnya dijadikan sebagai alat komunikasi penyelesaian project bersama. Alat komunikasi, intergrasi dan pembagian job masing-masing. Bagi mereka yang belum mengenal cara kerja dua aplikasi tersebut, maka untuk bekerja mereka cenderung menggunakan aplikasi media sosial sebagai alat integrasi, pengumpulan dan pembagian job.

Fakta Unik di Tengah Kebijakan Social Distancing

Di balik respon masyarakat atas kebijakan sosial distancing baik dalam dunia kerja maupun dunia pendidikan di atas terdapat beberapa fakta-fakta unik yang kirannya dapat kita nilai sebagai sisi positif dari kebijakan lock down. Mengapa demikian? Apa yang terjadi?

Berdasar pengalaman pribadi, sejak kurun waktu 1 bulan lalu pulang kampung, saya melihat fenomena lain yang terjadi kepada ibu rumah tangga di desa saya. Dulu ketika urusan rumah tangga selesai, umumnya mereka akan beristirahat sambil berbincang-bincang mengenai kegiatan sore hari atau malam hari. Kegiatan yang diperbincangkan pun bermacam-macam. bisa tentang konsep acara tasyakuran kenduri, bisa berkaitan dengan jamaah shalawat, atau perbincangan kecil lainnya. Namun waktu itu saya kaget, ketika kemudian tiba-tiba ada salah satu ibu rumah tangga yang menanyakan bagaimana melakukan scan lewat smartphone. Ada juga yang bertanya bagaimana mengirim dokumen lewat aplikasi WhatApps, bahkan ada yang bertanya apa itu “TOKEN” ujian.

Pertanyaan demikian tidak pernah muncul sebelumnya, sebelum ada kebijakan lock down ini. Saya pun juga melihat adik-adik yang dulu menggunakan smartphone hanya untuk eksitensi diri di media sosial (buat status alay, tiktok, nonton drama dan game) kini mulai memfungsikan ke arah lain, beberapa jenis aplikasi berbau pendidikan mulai menghiasi layar Smartphone mereka. Kekhawatiran saya dulu terhadap generasi millennial mengenai kemampuan mereka menghadapi perkembangan industri 4.0 pun akhirnya turut memudar sedikit demi sedikit.

Tidak mau ketinggalan, guru, dosen, pengajar privat juga terpaksa harus menerapkan pembelajaran daring kepada anak didiknya. Metode apapun mereka gunakan, semampu mereka sepaham mereka terhadap teknologi yang ada itulah yang digunakan. Model daring yang paling sederhana antara lain, membuat group kelas-mengirim foto tugas-siswa mengirim jawaban. Untuk beberapa perguruan tinggi yang tentu sudah memiliki tim IT sendiri, melakukan optimalisasi sistem e-learning mereka. Selain itu, muncul Youtuber  baru dari kalangan dosen-dosen sebagai upaya mereka dalam memberikan pelajaran terhadap anak didik tercintanya.

Saya sendiri pun juga demikian, dulu sempat menggunakan Google Classroom namun tidak berjalan karena dirasa kurang efektif. Kemudian, akibat lock down ini website ini tercipta, khusus untuk pembelajaran saya menggunakan bantuan Plugin Learning Manajemen Sistem (LMS).

Harapan Pasca Social Distancing

Dengan penuh harapan agar Pandemi Covid-19 ini berakhir, dengan penuh harapan dan keyakinan pula bahwa usai Pandemi ini masyarakat setidaknya akan berevolusi dari yang awalnya Gaptek (gagap teknologi) menjadi Meletek (melek teknologi).

Akhir kata, setidaknya Pandemi Covid-19 mengajari kita bagaimana ber-internet secara bijak.

One thought on “Ternyata Saya tidak Gaptek? Evolusi Masyarakat Pasca Pandemi Covid-19

  1. Saya sangat setuju dengan uarain bapak Sholeh, mengapa? Itu yang saya alami sekarang dulu saya tidak begitu ingin tau tentang perkembangan teknologi dan aplikasi terbaru dan cenderung hanya pada buku dan guru saja, tanpa melihat peluang lain yang sekarang ini saya ikut seminar daring tentang pemerintahan tata usaha negara di grup WhatsApp. Hal itu menambah wawasan saya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: