Belajar dari Dato Sri Tahir, Anak Si Pembuat Becak

  • 3 min read
  • Jun 29, 2020
Dato Sri Tahir

Tahukah anda sosok pendiri Bank Mayapada, ternyata terlahir dari keluarga yang sangat sederhana? Ya, beliau adalah Dato Sri Tahir. Ayahnya adalah seorang pembuat becak, sedangkan  ibunya membantu ayahnya mengecat becak.

Sosok Dato Sri Tahir yang  gigih dan dermawan mampu mengantarkannya sebagai pengusaha sukses yang mendirikan Mayapada Group sekaligus sebagai filantropis yang mampu menyumbang ratusan juta USD untuk keperluan pendidikan dan  kesehatan. 

Orang yang dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 7 di Indonesia pada tahun 2019 ini memiliki nama asli Ang Tjoen Ming, yang lahir di Surabaya pada tanggal 26 Maret 1952. Ia dibesarkan dari keluarga yang kurang mampu. Cita-citanya sejak kecil menjadi seorang dokter, namun karena keterbatasan biaya ia tidak dapat mewujudkannya. Ketika ayahnya sakit keras dan meninggal, ia terpaksa berhenti kuliah dan melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya untuk memenuhi kebutuhan hidup.  

Riwayat Karir Dato Sri Tahir sebagai Pengusaha Sukses

Pengusaha Garmen

Meski sempat berhenti kuliah, beliau kemudian mendapat beasiswa sekolah bisnis dari Nanyang Technological University di Singapura. Di sinilah awal mula Tahir  memulai bisnis garmen. Sebelumnya ia membeli pakaian dan sepeda dari Singapura untuk dijual kembali di Surabaya, hal ini ia lakukan untuk membantu biaya studinya. Lambat laun ia serius menggeluti bisnis tersebut dan terkenal sebagai pengusaha muda yang ulet dan memiliki banyak bisnis. Menginjak usia 35 tahun, ia kembali melanjutkan studi pendidikan keuangan di Golden Gates University, Amerika Serikat. 

Pendiri Mayapada Group

Tak berhenti di bisnis garmen saja,  Dato Sri Tahir mencoba melebarkan sayap bisnis di bidang lain bahkan sampai merambah di bidang keuangan. Ia mendirikan Mayapada Group pada tahun 1986. Cakupan bisnis tersebut antara lain dealer mobil, perbankan, dan kesehatan. 

Bank Mayapada lahir pada tahun 1990. Kala itu bank ini menjadi bisnis andalannya ketika bisnis garmen tak lagi tumbuh pesat. Bank ini pernah menjadi bank umum terbaik kedua pada tahun 2007 selain bank milik negara dan mendapat penghargaan dari majalah tentang bank paling berpengaruh waktu itu.

Meski pernah gagal menjadi dokter, ia menyalurkan keinginannya untuk dapat menyembuhkan banyak orang melalui hal lain. Di bidang kesehatan, ia mendirikan rumah sakit di Jakarta dan Tangerang. Selain itu ia merencanakan pembangunan cabang ketiga di Bali.

Ekspansi bisnis terus dilakukan oleh Dato Sri Tahir. Bisnisnya  merambah ke perusahaan media yang telah memiliki lisensi Forbes Indonesia serta membuat 11 perusahaan properti yang berada di Indonesia dan Singapura.  

Keteladanan dari Dato Sri Tahir

Dibalik suksesnya seorang pengusaha, tentu banyak masa-masa pahit yang dialaminya. Namun jiwa yang gigih, tangguh, dan pantang menyerah yang dimiliki Dato Sri Tahir mampu membawanya pada kesuksesan luar biasa. Ia dapat bangkit dari seorang anak pembuat becak yang melarat menjadi seorang konglomerat. Pada tahun 2019, kekayaan yang ia miliki senilai USD 45 miliar atau sekitar Rp. 63 triliun. Berikut keteladanan yang dapat kita contoh dari perjalanan karir Dato Sri Tahir.

Memiliki Semangat Entrepreneur yang Tinggi

Semangat entrepreneur memang sudah dipupuk oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Ia memang pengusaha ulung yang gigih dalam memulai usaha. Terbukti pada setiap usaha yang sukses ia dirikan. Hal ini tentu tidak lepas dari karakternya yang pekerja keras, mau belajar, dan jeli melihat peluang. Sehingga bisnis garmen yang ia rintis semasa kuliah dapat berkembang menjadi Mayapada Group yang mencakup berbagai sektor.

Tidak hanya itu, ia tidak ingin sukses sendirian. Ia memberikan suntikan semangat berwirausaha kepada wirausaha kecil dan menengah dengan membantu mengembangkan mereka melalui bank Mayapada miliknya.

Pebisnis Sukses yang Dermawan dan Peduli Sesama

Menurut pandangannya, bisnis merupakan sarana untuk membantu sesama. Meskipun ia adalah pebisnis sukses namun ia tidak pernah melupakan asal-usulnya yang berasal dari keluarga yang tak berpunya sehingga ia selalu berbagi kepada yang membutuhkan. Ia memang sangat terkenal dengan kegiatan derma-nya. Ia banyak membantu orang di seluruh dunia. 

 Dari rumah sakit yang ia dirikan, ia pernah memberikan operasi jantung gratis bagi 100 pasien serta memudahkan pelayanan bagi orang yang kurang mampu. Tercatat ia juga pernah menyumbangkan USD 75 juta bersama dengan Bill & Melinda Gates Foundation yang dilipatgandakan menjadi USD 150 juta untuk memerangi TBC, HIV, dan Malaria di Indonesia. Terakhir, tak tanggung-tanggung ia menggelontorkan dana Rp 52 miliar untuk membantu penanganan pandemi covid 19 di Indonesia.

Selain kesehatan, ia juga sangat peduli kepada pendidikan. Ia telah memberikan banyak dana untuk pendidikan di Indonesia dan luar negeri  baik dalam bentuk beasiswa maupun kebutuhan sekolah lainnya. Seperti pada tahun  2014 ia menyumbangkan USD 3, 27 juta untuk beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu di seluruh Indonesia dan sejumlah 10.000 laptop untuk bantuan pendidikan sekolah menengah. Selain yang telah tersebut di atas masih banyak lagi kegiatan sosial yang dia lakukan, hal ini benar-benar sangat patut di contoh.

Memiliki Segudang Prestasi Gemilang

Beberapa prestasi yang diraihnya adalah pada tahun 2010, ia mendapat gelar Dato Sri dari Sultan Pahang Malaysia membantu masyarakat dan berkontribusi menyelesaikan konflik antar perusahaan. Ia juga mendapat penghargaan Chancellor’s Citation dari University of California dan penghargaan Entrepreneur of the Year 2011 serta penghargaan di bidang pendidikan oleh Perdana Menteri Singapura tahun 2011. 

Selain itu, ia pernah mendapat gelar profesor  periode 2011– 2014 dari Sun- Yat Sen University dan mendapat gelar doktor kehormatan pada tahun 2016 di Universitas Gadjah Mada. Beberapa kali ia juga ditetapkan sebagai anggota Majelis Wali Amanat, yakni di University of California Berkeley dan Universitas Gadjah Mada.

Demikianlah perjalanan dan keteladanan yang patut anda pelajari dari Dato Sri Tahir, seorang pengusaha sukses. Tidak cukup menjadi sukses dan kaya, seorang pengusaha juga harus memberi kebaikan dan kebermanfaatan bagi orang sekitarnya.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: