Eka Tjipta Widjaja, Pengusaha Buku Tulis Lulusan SMA

  • 3 min read
  • Jun 29, 2020
Eka Tjipta Widjaja

Siapa yang mengira bahwa sosok  dibalik buku tulis dan kertas adalah prakarsa dari pengusaha lulusan SMA? ya Eka Tjipta Widjaja namanya. Pengusaha sukses yang masuk deretan 10 besar orang terkaya di Indonesia.

Kalian tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata “kertas”, si putih tipis yang selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Anda dan saya sekalipun untuk membeli sebuah kertas ataupun buku tulis pasti melihat dan memilih merknya, salah satu merk yang terkenal yaitu produk dari PT Sinar Mas. Namun pernahkah berfikir siapa sih pemilik perindustrian kertas  PT Sinar Mas di negara ini ? 

Jika anda pernah mendengar “Be a man of integrity, be responsible to your family, job, and society” mungkin anda telah menemukan jawaban dari pertanyaan “siapa sih pemilik perindustrian kertas  PT Sinar Mas di negara ini”

Biografi Eka Tjipta Widjaja

Namanya Eka Tjipta Widjaja  pemilik nama asli Oei Ek Tjhong, anak pertama dari tujuh bersaudara yang lahir pada Rabu, 3 Oktober 1923, ia yang berasal dari Fujian, Tiongkok Selatan. Eka sampai ke Indonesia tepatnya di Makassar bersama ibunya pada pada tahun 1932 menyusul ayahnya yang sampai lebih dulu dan berjualan kelontong. Beliau adalah seorang pemilik quotes diatas dan pendiri dari PT Sinar Mas. Ia termasuk dalam 10 orang terkaya di Indonesia. Pada  26 Januari 2019 ia meninggal dunia dan meninggalkan harta dengan total 205 triliun rupiah.

Cerita Hidup Eka Tjipta Widjaja

Dalam dunia bisnis tidak semudah membalikan telapak tangan, banyak rintangan yang harus dilalui oleh Eka Tjipta Widjaja. Pasalnya sebelum mendirikan PT Sinar Mas, Eka ikut berjualan kelontong bersama ayahnya. Hal ini menyebabkan Eka harus berhenti sekolah pada saat menginjak di bangku sekolah menengah atas karena waktunya habis untuk berjualan.

Berawal dari berdagang kelontong

Eka mulai menjajakan dagangan kelontongnya seperti biskuit, kembang gula, dan spiritus. Awal berjualan ia memperoleh dagangan dari pemasok hanya dengan modal kepercayaan. Setiap hari ia menjajakan dagangannya dengan bersepeda mengelilingi kota Makassar. Dari hasil berjualan ia dapat melunasi hutang ayahnya dan mempunyai tabungan. 

Ia memberanikan diri untuk mencoba berjualan minyak dengan modal tabungan yang ia miliki. Satu kaleng minyak seharga 3 rupiah rencananya akan dijual dengan harga 5-6 rupiah. Namun keadaan berkata lain, bukannya untung ia malah merugi, satu kaleng minyak yang ia miliki hanya dihargai 1 rupiah oleh para tentara Jepang. 

Merugi tidak membuatnya menyerah

Walaupun sempat merugi dan kehabisan modal, namun Eka tidak pernah menyerah. Semangat Eka terus tumbuh, Ia kembali berjualan kelontong. Kali ini yang ia jual beda dengan yang dulu, Eka menjual arak, terigu, semen, dan besi. Eka berharap bisa mempunyai tabungan seperti pertama ia berjualan. 

Melihat Dan Membaca Peluang

Tidak hanya berjualan kelontong, Eka pandai melihat situasi dan membaca keadaan. Dari barang-barang bekas yang dibuang tentara Belanda, Eka memungutnya dan menjualnya kembali. Dari hasil berjualan barang bekas, Eka menggunakan keuntungannya untuk membuka peternakan babi. Eka berpikir membuka usaha lainya, ia memutuskan menjual peternakan babi dan membuka pabrik roti.

Setelah usaha pabrik roti yang membuahkan hasil, keuntungannya digunakan untuk memperbesar usaha toko grosir dan menyerahkan pabrik roti kepada adiknya. Eka menggeluti usaha grosir dan dari usaha usaha grosir ia bertemu dengan Kapten Surario, ia adalah perwira Corps Intendans Angkatan Darat. Kapten Surario membutuhkan teh, sirup, rokok, abon, dendeng, sabun, dan bawang putih untuk kesatuannya. 

Pandai mengelola usaha

Setelah membangun relasi yang baik dengan tentara, eka dipercaya untuk menjual hasil bumi tanpa dibayar dimuka. Eka menjual dengan harga dibawah pasar dan membuatnya merugi 10%. Dari uang berdagang hasil bumi ia gunakan untuk berdagang bahan tekstil impor, dari sinilah ia meraup untuk 100%.  Dari rugi 10% lalu mendapatkan untung 100%. Eka mempunyai strategi dalam menjual barang dan memutarkan uang sehingga ia pandai dalam mengelola usaha.

keuntungan 100% yang diperoleh ia gunakan untuk berbisnis kopra dan digunakan untuk membuat CV Sinar Mas pada tahun 1960-an. 

Bisnis Eka Tjipta Widjaja

Setelah berhasil mendirikan CV, usaha Eka terus berkembang dan berubah  menjadi PT yang memiliki banyak bidang usaha yang menangani perusahaan di bidang kertas, telekomunikasi,  properti,  perkebunan, dan keuangan. Di Antara bisnis dari PT Sinar Mas yaitu PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, bisnis pertanian dan makanan melalui Golden Agri-Resources Ltd. (GAR), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), operator telekomunikasi pertama 4G LTE, bisnis pembangkit listrik dan uap, perdagangan grosir, penambangan dan perdagangan batubara, multimedia dan infrastruktur, Sinar Mas Land (SML) tercatat sebagai salah satu pengembang properti terbesar dan paling beragam di Indonesia. 

Demikianlah ulasan tentang Eka Tjipta Widjaja yang memulai usaha dari nol. Semoga kita bisa memetik pelajaran dari beliau dan mempraktikan usaha yang ia jalani. Ingat ! sebaik-baiknya ide yang kita miliki tidak akan berarti apabila tidak dijalankan.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: